Jakarta, Balijani.id | Gonjang-ganjing yang mengiringi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, terlepas dari segala dinamika dan perdebatan di dalamnya, menyisakan satu fenomena yang sangat menarik. Di tengah meningkatnya tensi organisasi, perhatian publik dan warga Nahdliyin justru kembali tertuju kepada sejumlah figur Gus—sosok-sosok yang belakangan seolah berada di luar panggung utama.
Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk kerinduan mendalam terhadap figur yang memegang teguh tradisi pesantren, memiliki independensi sikap, serta mampu menyampaikan pandangan secara jernih di tengah tarik-menarik kepentingan organisasi.
Dinamika Muktamar pun tak lagi sebatas perdebatan struktur dan kepemimpinan. Momentum ini sekaligus membuka kembali ruang bagi hadirnya figur-figur alternatif yang selama ini lebih banyak bergerak sunyi di lingkungan pesantren dan masyarakat akar rumput.
1. Figur Alternatif dan Kerinduan terhadap Khittah Pesantren
Salah satu aspek krusial dari dinamika ini adalah menguatnya kembali wacana tentang pentingnya menjaga khittah dan karakter pesantren dalam tubuh organisasi.
Selama ini, wajah kepemimpinan NU kerap diidentikkan dengan elite struktural yang beraktivitas di pusat-pusat kekuasaan. Namun, ketika suhu organisasi memanas, muncul kerinduan dari akar rumput Nahdliyin terhadap sosok yang murni tumbuh dari rahim tradisi pesantren.
Nama-nama pengasuh pesantren seperti Gus Kikin dan Gus Salam, misalnya, kembali mencuat dalam perbincangan publik terkait arah kepemimpinan NU. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tetap memegang posisi sentral dalam imajinasi kolektif warga NU. Figur-figur yang konsisten mengabdi di jalur pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat kembali menjadi rujukan moral saat organisasi diterpa gelombang internal.
Di sinilah panggung para Gus kembali terbuka. Kehadiran mereka tidak selalu bertumpu pada struktur kekuasaan, melainkan pada legitimasi sosial dan kedalaman tradisi keilmuan pesantren.
2. Keberanian Gus Muda dalam Mengambil Sikap
Dinamika pasca-Muktamar juga menandai lahirnya ruang bagi figur-figur muda yang berani mengambil posisi kritis.
Nama Gus Lilur (Khalilur R. Abdullah Sahlawiy), misalnya, mencuri perhatian publik lewat pernyataan tegasnya mengenai dugaan politik uang dalam proses Muktamar. Terlepas dari perlunya verifikasi faktual dan bantahan resmi dari panitia, keberanian menyampaikan pandangan secara terbuka merupakan fenomena yang patut dicermati.
Para Gus muda ini hadir bukan semata-mata membawa nama struktur, melainkan sebagai suara alternatif yang mengartikulasikan keresahan warga Nahdliyin di tingkat bawah. Kritik argumentatif semacam ini tidak sepatutnya dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, hal itu merupakan mekanisme koreksi internal agar organisasi senantiasa memiliki ruang evaluasi dan pembenahan diri.
3. Kerinduan akan Sosok yang Teduh dan Berilmu
Di tengah derasnya arus informasi dan riuk-pikuk perdebatan di media sosial, masyarakat mulai jenuh dengan konflik dan faksionalisme. Kondisi ini melahirkan kebutuhan mendesak akan hadirnya figur yang menawarkan keteduhan, kedalaman ilmu, serta keteladanan sikap.
Para Gus yang memilih tetap berada di pesantren—membina santri, berdakwah, dan mengabdi tanpa tergiur perebutan kekuasaan—justru mendapatkan simpati tersendiri. Ceramah, dawuh, dan pemikiran para kiai kembali dicari serta dibagikan secara luas.
Bagi warga Nahdliyin, fenomena ini menjadi pengingat penting: akar kekuatan NU sejak awal tidak terletak pada megahnya struktur organisasi, melainkan pada pesantren, tradisi keilmuan, dakwah, dan keteladanan para ulama. Historisitas ini mengembalikan ingatan kita pada warisan para pendiri NU, termasuk KH Abdul Wahab Chasbullah, yang membangun organisasi di atas pondasi keagamaan dan semangat kebangsaan yang kokoh.
Kembali kepada Akar
Dinamika Muktamar NU ke-35 pada akhirnya memberi kita kacamata baru. Di balik hiruk-pikuk politik organisasi, ada hikmah besar yang patut disyukuri: perhatian publik kembali tertuju kepada para Gus dan kiai pesantren.
Mereka yang selama ini berada di luar lingkaran struktural mendapatkan panggung untuk menyuarakan kebenaran. Para Gus muda yang berani bersikap kritis mendapat apresiasi, sementara para Gus sepuh yang istiqamah menjaga tradisi keilmuan kembali menjadi peneduh di tengah dahaga keteladanan.
Momentum ini tidak boleh berhenti pada kalkulasi siapa yang masuk atau keluar dari struktur kepemimpinan. Lebih dari itu, ini adalah ruang refleksi bersama tentang bagaimana NU menjaga identitas dasarnya sebagai organisasi yang berakar kuat pada pesantren dan tradisi keilmuan para ulama.
Kekuatan NU yang sejati tidak diukur dari jabatan atau kontestasi kepemimpinan, melainkan tumbuh dari surau dan pesantren, dari ketulusan para santri, keteladanan kiai, serta keberanian generasi muda dalam merespons tantangan zaman.
Gus-Gus muda, teruslah melangkah. Bukan sekadar mengejar panggung, melainkan untuk menjaga nilai, tradisi, dan marwah para kiai sepuh.
Semoga setiap langkah senantiasa berada dalam koridor ilmu, adab, dan kebenaran.
Amin.
Budyto, Campaka
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana













