Buleleng, Balijani.id| Isu penebangan liar mencuat setelah banjir bandang menerjang wilayah Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Banyaknya potongan kayu yang terbawa arus di aliran Tukad Mendaum memicu spekulasi di tengah masyarakat bahwa bencana tersebut dipicu aktivitas illegal logging di kawasan hulu.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra memberikan klarifikasi dan membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa material kayu yang hanyut bersama banjir bukan berasal dari aktivitas penebangan liar, melainkan akibat pohon yang tumbang secara alami karena kondisi cuaca ekstrem.
Sutjidra menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi beberapa waktu terakhir menyebabkan tebing sungai terkikis dan memicu tumbangnya sejumlah pohon di sekitar aliran sungai.
“Jika itu illegal logging, biasanya yang terbawa adalah kayu gelondongan hasil tebangan rapi. Namun, yang terjadi kemarin adalah pohon yang tercabut utuh dengan akarnya,” pungkas Sutjidra pada Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa material kayu yang terbawa banjir merupakan dampak langsung dari kekuatan arus air yang menyeret pohon-pohon yang tumbuh di bantaran sungai. Selain pohon besar, rumpun bambu yang berada di pinggir sungai juga ikut tercabut hingga ke akarnya.
Ia juga meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab bencana sebelum ada kajian dan penjelasan yang jelas dari pihak terkait.
Pemerintah Kabupaten Buleleng sendiri terus melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan banjir, khususnya di wilayah aliran sungai. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus mencegah potensi bencana serupa terjadi kembali.
Klarifikasi dari pemerintah daerah diharapkan dapat meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat. Di tengah situasi pascabencana, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta bersama-sama menjaga kawasan hulu sungai agar tetap lestari.
[ Editor : Sarjana ]













