Sekolah atau Tertinggal: Nasib Indonesia Emas di Tangan Rakyat yang Sadar Belajar

Oleh: Dr. Suriyanto, S.H., M.H., M.Kn. (Praktisi Hukum / Akademisi / Ketua Umum PWRI)

Balijani.id, 11 Okt 2026, 21:11 WIB
Pendidikan berkualitas dan kesadaran belajar masyarakat menjadi kunci utama dalam menghindari bencana demografi menuju Indonesia Emas 2045.

JAKARTA, Balijani.id | Rakyat Indonesia sulit maju jika masih memelihara kemalasan dalam menempuh pendidikan. Kalimat ini mungkin terdengar pahit, namun itulah kenyataan telanjang yang kita hadapi sehari-hari.

Kita sering bangga menyebut Indonesia sebagai negara besar dengan 280 juta jiwa penduduk, kelimpahan sumber daya alam, dan potensi bonus demografi. Namun, besar saja tidak cukup. Jumlah penduduk yang melimpah tanpa kualitas pendidikan yang memadai hanya akan menjadi beban nasional, bukan peluang. Tanpa SDM unggul, kita hanya akan menjadi penonton dan pasar, bukan pemain utama di negeri sendiri.

Jalan menuju Indonesia Emas 2045 sudah di depan mata—hanya berjarak kurang dari dua dekade. Pemerintah telah mengupayakan infrastruktur fisik dan akses pendidikan: gedung sekolah, jalan tol, jaringan internet, program Merdeka Belajar, KIP Kuliah, hingga beasiswa LPDP. Namun, megahnya infrastruktur akan sia-sia jika mentalitas masyarakat masih menganggap sekolah sebagai beban, bukan kebutuhan dasar.

Lihatlah realitas di pelosok kampung hingga sudut kota. Masih banyak anak putus sekolah karena tergiur kerja serabutan. Sebagian orang tua bahkan lebih bangga jika anaknya cepat menghasilkan uang ketimbang menuntaskan pendidikan. Sementara di ruang digital, media sosial kita kerap didominasi konten selebrasi dangkal ketimbang literasi ilmu pengetahuan. Ini adalah potret kemalasan kolektif yang mengkhawatirkan.

Kemakmuran Membutuhkan Kemauan

Kemakmuran tidak turun otomatis dari langit, dan tanggung jawabnya tidak melulu berada di tangan pemerintah. Pemerintah bertugas menyediakan sarana dan prasarana, sedangkan rakyatlah yang menentukan apakah alat tersebut dimanfaatkan atau dibiarkan berkarat. Penentu utama lompatan kesejahteraan adalah kesadaran rakyat bahwa pendidikan merupakan satu-satunya tangga untuk naik kelas.

Alasan biaya dan akses geografis kini makin tidak relevan. Negara telah membebaskan biaya pendidikan dasar hingga menengah, sementara ruang kelas kini hadir di genggaman melalui telepon pintar. Yang sering kali absen adalah kemauan. Kemalasan adalah bentuk “penjajahan baru” yang melumpuhkan daya pikir masyarakat dari dalam.

Data menunjukkan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk Indonesia masih berada di kisaran 9 tahun, atau setara lulusan SMP. Bagaimana mungkin kita bermimpi menjadi pusat ekonomi dunia jika rata-rata pendidikan masyarakatnya saja tidak tamat SMA? Sebagai pembanding, negara-negara maju memiliki rata-rata lama sekolah mencapai 13 hingga 14 tahun.

Visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan Manusia Emas—individu yang kompeten, kritis, menguasai teknologi, dan beretika. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan Manusia Cemas, yakni masyarakat yang mudah terpengaruh hoaks, gampang diadu domba, dan tersingkir ketika tenaga kerja terdidik luar mengambil alih peranan strategis.

Transformasi Mindset dan Peran Bersama

Di era Artificial Intelligence (AI), energi hijau, dan ekonomi digital, mereka yang tidak membekali diri dengan pendidikan berkualitas akan tergilas. Pendidikan bukan sekadar mengejar lembar ijazah, melainkan latihan membentuk disiplin, pola pikir logis, serta etika berilmu.

Kita harus menggeser paradigma dari sekadar “sekolah untuk mencari kerja” menjadi “sekolah untuk menciptakan peluang dan lapangan kerja”. Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang rakyatnya berdesakan memperebutkan pekerjaan, melainkan bangsa yang warganya terdidik untuk mendesain solusi dan peluang baru.

Perubahan ini memerlukan komitmen kolektif:

  • Orang Tua: Berhentilah mengorbankan masa depan anak. Pastikan anak fokus belajar pada jam sekolah ketimbang memintanya bekerja dini demi hasil jangka pendek.

  • Anak Muda: Buang jauh-jauh stigma bahwa “rajin itu tidak keren”. Di era informasi, ketertinggalan ilmu adalah kerugian nyata. Kesempatan akan selalu menghampiri mereka yang siap dan berpengetahuan.

  • Pemerintah Daerah & Tokoh Masyarakat: Jangan hanya berfokus pada pembangunan fisik yang megah, tetapi sepi kegiatan literasi. Hidupkan perpustakaan desa, taman baca, serta program kejar paket untuk menuntaskan buta huruf dan putus sekolah.

Indonesia Emas 2045 bukanlah hasil instan, melainkan buah dari apa yang kita tanam hari ini. Jika yang ditanam adalah kemalasan, maka yang dipanen adalah ketertinggalan. Namun jika yang ditanam adalah keseriusan belajar, kita akan memanen kejayaan.

Bonus demografi dapat berbalik menjadi bencana demografi apabila mayoritas penduduk usia produktif tidak terdidik dengan baik. Pilihan ada di tangan kita sekarang: tetap menjadi penonton yang tertinggal, atau bangkit dan menjadi pemilik sah masa depan Indonesia.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru