BULELENG, Balijani.id | Bertepatan dengan Purnama Kapat yang jatuh pada Sabtu (26/9/2026), Desa Adat Tista, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng melangsungkan piodalan di Pura Taman. Pelaksanaan upacara ini berlangsung dengan penuh hikmat dan rasa kebersamaan sebagai bentuk penghormatan serta wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia keselamatan dan kelancaran hidup.
Rangkaian upacara pujawali berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 23.00 WITA. Seluruh tahapan acara berjalan tertib dan lancar berkat semangat gotong royong serta rasa memiliki dari warga. Kegiatan diawali dengan prosesi mesucian, mecaru, hingga persembahyangan bersama. Kemeriahan dan kesucian acara kian terasa saat krama desa berpartisipasi aktif (ngayah) hingga prosesi nunas paice. Suasana kian semarak dengan hadirnya persembahan seni (ilen-ilen) dari desa istri, penampil dari Krandan, hiburan bondres, serta pementasan Topeng Sida Karya oleh Putu Bagor dan kawan-kawan.
Kelian Desa Adat Tista, Jro Komang Hendy Putra Sastrawan, menyampaikan rasa terima kasih dan syukurnya kepada segenap prajuru, Jro Mangku, serta seluruh krama desa. Beliau menekankan bahwa tradisi ngayah memegang peranan yang sangat vital dalam pelaksanaan upacara keagamaan di Bali.
“Ngayah merupakan kearifan lokal Bali yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Desa Adat Tista. Tujuannya adalah bekerja sama secara sukarela dan tulus ikhlas tanpa memandang status maupun kelas sosial, sehingga terwujud keakraban serta persatuan yang erat di tengah masyarakat,” ujar Jro Kelian Adat Tista, didampingi Prajuru, Tridatu, dan Jro Mangku Kahyangan Tiga.
Edukasi: Makna & Syarat Piodalan (Satwika Yadnya)
Makna Piodalan
Kata piodalan berasal dari kata “wedal” yang berarti keluar atau lahir. Oleh karena itu, piodalan (atau odalan) dimaknai sebagai hari peringatan berdirinya suatu tempat suci atau pura. Peringatan yang kerap disebut pujawali, petoyan, atau petirtaan ini merupakan bagian dari upacara Dewa Yadnya. Bagi umat Hindu di Bali, piodalan wajib dilaksanakan sebagai wujud bakti untuk menciptakan kehidupan yang harmonis serta sejahtera lahir dan batin.
7 Syarat Pelaksanaan Piodalan (Satwika Yadnya)
Agar upacara piodalan bernilai Satwika Yadnya, terdapat tujuh syarat utama yang harus dipenuhi:
-
Sradha: Dilaksanakan dengan penuh keyakinan.
-
Lascarya: Dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tulus hati.
-
Sastra: Berlandaskan ajaran kitab suci (Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastuti).
-
Daksina: Menggunakan sarana dan perlengkapan upacara yang sesuai.
-
Mantra dan Gita: Diiringi pelantunan gita/lagu suci dan doa pemujaan.
-
Annasewa: Menyajikan hidangan atau jamuan makan kepada para tamu yang hadir.
-
Nasmita: Dilaksanakan murni demi tujuan spiritual, bukan untuk memamerkan kemewahan atau kekayaan.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana


















