News  

Ratusan Krama Adat Dengan Membawa Cangkul dan Linggis Membongkar Got yang di Jadikan Pembuangan Limbah penghuni BTN

Balijani.id, 15 Okt 2023, 23:25 WIB

Buleleng, Balijani.id ~ Ratusan warga dari tiga Banjar adat terdiri dari Banjar Adat Purwa, Banjar Adat Pala dan Banjar Adat Sari Desa adat Pengastulan, Seririt, Buleleng Bali dengan membawa alat alat pertanian dan alat pertukangan seperti cangkul, sabit, linggis dan martil beramai ramai membongkar beton penutup got di depan pura dalem Minggu (15/10) siang.

Pembongkaran beton penutup got didepan pura dalem merupakan imbas dari pelanggaran kesepakatan bersama antara pengembang perumahan, yakni PT Adi Jaya dengan pihak adat pengastulan.

Pembongkaran got tersebut disaksikan oleh klian adat dan pihak kepolisian polsek Seririt dan polres Buleleng. Klian Desa adat Pengastulan I Nyoman Ngurah mengatakan, kehadiran warga sebagai bentuk tindak lanjut kesepakatan yang dilanggar oleh pengembang. Diantaranya, pintu keluar masuk yang melewati areal pura, got yang berada di kawasan suci dijadikan sebagai pembuangan limbah warga perumahan.

“demi menjaga kesucian dan kesakralan pura, warga sepakat untuk menutup pintu keluar masuk perumahan dan got, selanjutnya got akan tersebut di tutup permanen, ” ujar Klian Desa Adat Pengastulan

Sementara menurut Ketut Widi Krama Adat Desa Pengastulan mengatakan, disamping pintu dan got banyak hal pelanggaran yang dilakukan oleh pengembang diantaranya, tembok yang janji pengembang akan di plester dengan menggunakan ornomen bali atau disesuaikan dengan ornamen pura dalem, tidak dilaksanakan. Kekisruhan antara desa adat dengan pihak pengembang sempat dimediasi oleh anggota dewan komisi I DPRD Buleleng, namun kesepakatan tersebut tidak kunjung dilakukan oleh pengembang.

“banyaknya kesepakatan yang dilanggar oleh PT Adi Jaya selaku pengembang, membuat warga bertindak tegas dengan cara mengunci pintu a dan membongkar beton got, ” ujar Ketut Widi

Sedangkan menurut Wayan Darmayasa Warga Adat pengastulan mengatakan, perumahan itu tidak mempunyai amdal dan tidak mengedepankan aspek asaz manfaat. Bio fory yang seharusnya dimiliki oleh masing masing rumah dan tidak memakai aliran subak sebagai pembuangan limbah, karena disaat musim hujan tiba, aliran subak akan meluap ke halaman pura dalem,

“pokoknya tidak ada kompromi, aliran subak ini akan ditutup mati, ” ujar Darmayasa yang terkenal vokal di Desa Adat Pengastulan

Sedangkan menurut tokoh masyarakat Desa Pengastulan Aji Wisnu meminta kepada semua pihak untuk menjaga kondisifitas di Desa Pengastulan,

” konflik berkepanjangan di Desa Pengastulan harus di hentikan. Caranya, semua pihak harus mentaati kesepakatan yang telah dilahirkan melalui musyawarah Desa adat, ” Pinta Aji Wisnu Tokoh Masyarakat Desa Pengastulan

Diketahui, kekisruhan di Desa Pengastulan berbuntut dengan aksi penggembokan pintu menuju Pura Dalem , pembongkaran got di areal pura serta aksi saling lapor kepihak kepolisian Resort Buleleng antara pro dan kontra penutupan atau penggembokan pintu dan pembongkaran got tersebut.

[ BJ/TIM ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru