Kapal Tua, Otak Baru: Daya Gentar atau Sasaran Empuk?

Oleh: Laksda TNI (Purn) Dr. Soleman B. Ponto, S.T., S.H., M.H.

Balijani.id, 13 Okt 2026, 18:01 WIB
Modifikasi kapal tua dengan teknologi baru dinilai memerlukan kajian mendalam agar tidak menjadi sasaran empuk di medan pertempuran modern.

Jakarta, Balijani.id | Rencana modifikasi KRI Sriwijaya kembali menjadi perbincangan hangat. Kapal ini disebut akan menggunakan produk dalam negeri, yaitu CMS Mandhala MK2 buatan PT LEN Industri sebagai “otak” kapal, serta akan diintegrasikan dengan drone tempur siluman Kizilelma dari Turki. Harapannya, kekuatan armada drone Indonesia bertambah dan daya gentar (deterrence effect) militer kita meningkat di mata dunia.

Saya menghargai semangat Indonesianisasi di balik rencana ini. Memakai produk dalam negeri adalah langkah yang patut didukung, karena kemandirian industri pertahanan adalah kunci kedaulatan bangsa. Namun, memasang teknologi baru di KRI Sriwijaya lalu mengklaimnya sebagai penambah daya gentar, menurut saya adalah klaim yang berlebihan. Mari kita lihat dengan jernih.

1. Kapalnya Sudah Tua

KRI Sriwijaya adalah kapal bekas Angkatan Laut Italia, yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi. Umurnya sudah sekitar 40 tahun, dan Italia sendiri telah memensiunkannya. Ibarat mobil tua yang dipasangi GPS dan sensor paling canggih, tetap saja itu mobil tua. Mesinnya rentan rusak, suku cadangnya makin sulit dicari, dan biaya perawatannya sangat mahal.

  • Beban Anggaran Negara: Kapal ini memang diperoleh melalui mekanisme hibah, tetapi hibah hanya gratis di pintu masuk. Biaya perawatan lambung dan mesin, bahan bakar, gaji ratusan awak, hingga pembangunan pangkalan dan dermaga khusus, seluruhnya ditanggung oleh anggaran negara. Yang gratis kapalnya, yang mahal hidupnya.

2. Zaman Sudah Berubah

Dahulu, kapal berukuran besar adalah lambang kekuatan. Siapa yang memiliki kapal terbesar, dialah yang paling ditakuti. Namun, pertempuran laut masa kini menunjukkan hal yang sebaliknya. Di Laut Hitam, kapal-kapal perang besar dibuat kewalahan bahkan tenggelam oleh drone laut dan rudal yang harganya jauh lebih murah. Di Laut Merah, drone murah sudah cukup untuk membuat kapal-kapal besar berpikir dua kali sebelum melintas.

  • Fenomena Gajah Melawan Nyamuk: Kapal sebesar gajah itu lambat, mudah terlihat oleh radar, dan sulit bersembunyi. Musuh tidak perlu mengirimkan senjata mahal; cukup puluhan drone murah yang datang bersamaan dari berbagai arah (swarming attack), dan sistem pertahanan udara kapal akan kerepotan menangkis semuanya. Inilah fenomena “gajah melawan kawanan nyamuk”—gajahnya besar, tetapi nyamuknya banyak, murah, dan sulit ditepis.

3. Kizilelma Belum Tentu Cocok

Kizilelma adalah drone jet tempur yang membutuhkan landasan pacu panjang. Sementara itu, geladak (deck) KRI Sriwijaya pendek dan hanya dilengkapi landasan miring (ski-jump) di ujungnya, tanpa alat pelontar (catapult) maupun kabel penahan (arrestor wire) untuk pendaratan.

Sampai sekarang, belum ada penjelasan teknis yang meyakinkan mengenai bagaimana drone ini akan lepas landas dan mendarat dengan aman di kapal tersebut. Membeli drone mahal tanpa kepastian operasional dari kapalnya adalah sebuah perencanaan yang terbalik.

4. Terlalu Banyak Telur di Satu Keranjang

Bayangkan semua drone mahal, helikopter, sistem komando, dan ratusan prajurit dikumpulkan di satu kapal besar. Sekali kapal itu terkena serangan fatal, semuanya akan hilang dalam sekejap. Itu bukan hanya kerugian materiil yang sangat besar, tetapi juga pukulan strategis dan moral bagi bangsa.

Kekuatan yang disebar (distributed lethality) ke banyak kapal kecil jauh lebih sulit dihancurkan. Jika satu kapal terkena serangan, kapal yang lain masih bisa bertempur. Musuh pun dipaksa menguras lebih banyak logistik dan senjata untuk mencari serta menyerang kapal satu per satu.

5. Menjawab Alasan Para Pendukung

  • Untuk Penanganan Bencana? Jika fungsi utamanya untuk kemanusiaan/bencana, mengapa harus dipasangi drone tempur siluman dan dijajakan sebagai alat daya gentar? Kapal Rumah Sakit dan Kapal Angkut Serbaguna (LPD) justru bisa dibangun sendiri oleh PT PAL dengan biaya operasional yang jauh lebih efisien.

  • Sarana Latihan Kapal Induk Modern? Apakah rencana pengadaan kapal induk modern itu sudah jelas anggaran dan jadwalnya? Jika belum, kita sedang melatih ratusan prajurit untuk jenis kapal yang mungkin tak pernah kita miliki. Latihan bisa dilakukan lebih murah melalui pendidikan di negara sahabat, latihan gabungan, maupun penggunaan simulator.

  • Simbol Status dan Diplomasi? Para analis militer kawasan tahu betul bahwa ini adalah kapal bekas. Mereka tidak akan gentar. Lebih buruk lagi, jika kapal ini sering masuk dok perawatan atau gagal menerbangkan drone yang dijanjikan, citra pertahanan kita justru terancam runtuh di mata dunia.

6. Lalu, Sebaiknya Bagaimana?

Semangat Indonesianisasi lebih tepat diarahkan pada hal-hal yang benar-benar menambah kekuatan nyata:

  1. Memperbanyak kapal cepat rudal (KCR): Kapal berukuran kecil yang cepat, lincah, dan sulit dideteksi.

  2. Mengembangkan drone & rudal anti-kapal: Memfokuskan riset pada produksi mandiri di dalam negeri.

  3. Membangun sistem penangkal drone (Anti-Drone System): Menghadapi ancaman perang asimetris yang semakin nyata.

  4. Memperkuat armada kapal selam: Alutsista yang jauh lebih sulit ditemukan oleh musuh.

Selain itu, CMS Mandhala MK2 buatan PT LEN Industri akan jauh lebih bermanfaat jika dipasang pada kapal-kapal fregat dan korvet baru yang masih akan berdinas puluhan tahun ke depan. Dengan begitu, investasi teknologi dalam negeri tidak ikut pensiun bersama kapal tua.

Penutup

Indonesia memang membutuhkan kekuatan laut yang disegani. Namun, negara disegani bukan karena kapalnya paling besar, melainkan karena kekuatannya sulit dikalahkan dan konsisten menjaga wilayahnya, termasuk di Natuna.

Kapal tua berukuran besar memang tampak megah untuk dipamerkan. Namun di medan perang modern, ia justru menjadi sasaran yang paling mudah dibidik. Uang rakyat semestinya dipakai untuk membangun kekuatan yang sulit dihancurkan, bukan untuk merawat sasaran empuk.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru