Bali Jadi Barometer Nasional, Gubernur Koster dan Wamenko Pangan Pimpin Apel Siaga

Balijani.id, 8 Jul 2026, 07:22 WIB
Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur Bali Wayan Koster saat menyerahkan penghargaan dan alat Lahsamor BRIN kepada perwakilan desa terbaik di Lapangan Renon

10 Desa Terbaik Terima Penghargaan dan Alat Lahsamor dari BRIN sebagai Motor Penggerak Pengelolaan Berbasis Sumber

DENPASAR, Balijani.id | Sebagai barometer nasional, Provinsi Bali mencatatkan sejarah sebagai provinsi pertama yang mengawali gerakan pilah sampah secara masif.

Gerakan ini ditandai dengan pelaksanaan Apel Siaga Pilah Sampah yang dipusatkan di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Renon, Denpasar, pada Selasa (7/7) sore. Kegiatan strategis ini merupakan bagian dari rangkaian agenda ground breaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dilaksanakan keesokan harinya.

Apel siaga ini dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster, serta turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.

Melibatkan ribuan peserta dari unsur pelajar, Dinas Lingkungan Hidup, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga elemen masyarakat, aksi ini menjadi simbol penguatan gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber.

Gubernur Koster menegaskan bahwa paradigma pengelolaan sampah di Bali kini harus bergeser total, tidak lagi bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melainkan wajib diselesaikan langsung dari sumbernya, seperti rumah tangga, desa, pasar, hingga kawasan pariwisata. Langkah ini sejalan dengan Pergub Bali No. 47 Tahun 2019 dan SE Gubernur Bali No. 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah.

“Kita ingin memastikan sampah selesai di tempat dihasilkannya. Sampah organik dapat langsung diolah menjadi pupuk yang menyuburkan tanah pertanian, sedangkan sampah nonorganik didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi,” ujar Gubernur Koster, seraya menekankan pentingnya perubahan budaya ini demi menjaga kesucian alam Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Pada kesempatan yang sama, Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian Bali yang menempati posisi ketiga terbaik dalam Indeks Ketahanan Pangan Nasional. Namun, ia mengingatkan tantangan besar produksi sampah Bali yang mencapai 3.500 ton per hari dan mendesak seluruh pemerintah daerah untuk mempercepat sistem pengelolaan berbasis sumber guna menghindari risiko kebakaran TPA seperti yang pernah terjadi pada tahun 2023.

“Kami berharap Bali benar-benar mampu menyelesaikan persoalan sampahnya paling lambat Desember 2026. Bali adalah wajah Indonesia dan destinasi wisata dunia, karena itu Bali bersih tidak bisa ditawar lagi,” tegas Hanif.

Apresiasi untuk 10 Desa Motor Penggerak

Sebagai bentuk apresiasi nyata, acara ini juga diisi dengan penyerahan penghargaan kepada 10 desa dan desa adat di Bali yang dinilai sukses menjadi motor penggerak pemilahan dan pengolahan sampah di sumber.

Kesepuluh desa tersebut meliputi:

Selain piagam, kesepuluh desa terbaik ini menerima bantuan alat pengolah sampah organik skala rumah tangga bernama “Lahsamor” (Pengolah Sampah Organik), yang merupakan inovasi mutakhir hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

[ Editor : Sarjana ]

#BaliBersihSampah #PilahSampah #NangunSatKerthiLokaBali #GubernurKoster #WamenkoPangan #LahsamorBRIN #Denpasar #InfrastrukturHijau

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru