BULELENG, Balijani.id | Suara genta berdentang lembut berpadu dengan alunan kidung suci yang membumbung di udara malam. Ketika bulan bulat sempurna benderang di langit—menandakan tibanya Purnama Kelima—masyarakat Desa Adat Tista, Desa Baktiseraga, kembali melangsungkan rangkaian upacara sakral Pujawali lan Nyatur di Pura Desa.
Di antara deretan prosesi suci yang sarat makna, terdapat satu tahapan yang menyita perhatian dan menyentuh sisi spiritual terdalam umat: Ritual Mapepada (atau Mepepade). Prosesi ini bukan sekadar tradisi mengarak hewan kurban (wewalungan), melainkan sebuah wujud welas asih dan penghormatan tertinggi manusia terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya.
Makna Etimologi: Menyejajarkan Derajat dan Pengorbanan
Secara etimologi, kata Mapepada berakar dari bahasa Bali “pada”, yang menyimpan dua makna filosofis mendalam:
-
Sama / Setara: Merujuk pada prosesi penyamaan derajat spiritual. Melalui mantra dan doa suci, roh hewan-hewan persembahan didoakan agar terbebas dari ikatan karsa binatang. Harapannya, pada siklus reinkarnasi berikutnya, roh tersebut ditingkatkan derajatnya sehingga tidak terlahir kembali ke dunia sebagai hewan.
-
Kaki: Merujuk pada beragam jenis wewalungan yang dipersembahkan, baik hewan berkaki dua (satwa dwipada) seperti ayam dan bebek, maupun berkaki empat (satwa caturpada) seperti kambing, sapi, kerbau, atau babi.
Transformasi Ahimsa Karma: Kurban demi Keseimbangan Alam
Dalam ajaran Hindu, menyakiti apalagi membunuh makhluk hidup tanpa alasan mendasar merupakan perbuatan dosa (Ahimsa Karma). Namun, hewan yang dipersembahkan dalam ritus Yadnya memperoleh pengecualian khusus karena telah melalui penyucian Mapepada.
Hewan-hewan ini tidak dikorbankan demi pemuasan nafsu egois manusia, melainkan dipersembahkan demi menjaga harmonisasi alam semesta (Bhuta Yadnya). Landasan sastra agama ritual ini termaktub dalam kitab suci Manawa Dharmasastra V.40, yang menegaskan bahwa tumbuhan dan hewan yang digunakan dalam upacara suci akan terlahir kembali dalam tingkat kehidupan yang lebih tinggi (manggih sukertha).
Rangkaian Ritus Sakral Mapepada
Prosesi Mapepada saat Pujawali di Pura Desa Adat Tista berlangsung dalam suasana yang khidmat dan magis:
-
Restu dan Doa Sulinggih: Upacara dipimpin langsung oleh seorang pendeta suci (Sulinggih) yang memanjatkan doa-doa penyucian. Beliau memohon kehadirat Ida Bhatara Rare Angon—manifestasi Tuhan sebagai penguasa dan pelindung para hewan—agar berkenan menuntun serta mengantarkan arwah wewalungan menuju tempat yang luhur.
-
Prosesi Murwa Daksina: Hewan-hewan kurban yang telah dibersihkan dan dihias anggun diarak mengelilingi area pura sebanyak tiga kali searah jarum jam (mubeng). Gerakan melingkar ini melambangkan pembersihan spiritual hewan sekaligus penyelarasan roh mereka dengan elemen bumi (pertiwi).
-
Pengolahan Sarana Caru: Usai disucikan secara rohani, barulah wewalungan tersebut disembelih dengan penuh kesadaran spiritual untuk diolah menjadi sarana caru atau tawur dalam rangkaian Pujawali lan Nyatur.
Jenis Hewan dan Tingkatan Upacara Mapepada
Ritual Mapepada umumnya menjadi bagian mutlak dalam tingkatan upacara piodalan berskala besar (Karya Utama atau Agung).
Keanekaragaman Wewalungan: Tergantung pada tingkatan Yadnya (Nista, Madya, atau Utama), jenis hewan yang disucikan dalam ritual Mapepada mencakup:
-
Satwa Dwipada (Berkaki Dua): Berbagai jenis ayam (ayamsa), bebek (bebek kaji, bebek belang kalung), dan unggas lainnya.
-
Satwa Caturpada (Berkaki Empat): Babi (guling), kambing, anjing bangbung (blang bungkem), sapi, hingga kerbau (menda/isaka).
Bagi warga Desa Adat Tista, kehadiran ritual Mapepada saat Pujawali Purnama Kelima bukan sekadar rutinitas adat, melainkan pengingat luhur bahwa manusia, hewan, dan alam berada dalam satu jalinan ikatan kosmis yang saling mengasihi dan melengkapi.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana














