BULELENG, Balijani.id | Suasana sakral dan khidmat menyelimuti pelaksanaan upacara Pawintenan di Pura Dalem Desa Adat Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Minggu (11/10/2026) malam. Upacara yang berlangsung mulai pukul 18.00 hingga 21.30 WITA tersebut menjadi momentum penting bagi Dr. Ni Luh Gede Purnamawati, S.E., S.H., M.H., M.Kn. (Jero Sari), setelah menanti selama lima tahun untuk menjalani pawintenan sebagai Jero Tapakan Ida Bhatari Ratu Ayu.
Prosesi ritual ini dipuput oleh tiga Sulinggih, yang terdiri atas dua Sulinggih ajaran Siwa dan satu Sulinggih ajaran Buddha. Selain Jero Sari, upacara pawintenan ini juga dijalani oleh Jero Mangku Dalem Pura Dalem Desa Adat Pengastulan yang baru, Jro I Made Pariasa, bersama istrinya.
Peneguhan Pengabdian Sekala dan Niskala
Ditemui usai upacara, Jero Sari mengungkapkan rasa syukurnya karena pawintenan yang telah ia nantikan sejak tahun 2021 akhirnya dapat terlaksana dengan lancar. Bagi praktisi hukum dan akademisi ini, pawintenan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan peneguhan pengabdian yang selama ini ia jalankan di Pura Dalem.
-
Pengesahan Resmi: “Syukur, hari ini pawintenan tiang sebagai pemangku tapakan, yaitu Mangku Ida Bhatari Ratu Ayu di Pura Dalem, dipuput oleh tiga Sulinggih. Jero Mangku Dalem yang baru juga disahkan,” ujar Jero Sari.
Ia mengaku merasa lebih tenang dan nyaman dalam menjalankan tugas-tugas keagamaan karena pengabdiannya telah disahkan secara sekala dan niskala di hadapan Ida Bhatari serta disaksikan oleh krama adat.
Awal Perjalanan dan Bisama Ida Bhatara
Perjalanan Jero Sari menjadi pemangku tapakan berawal dari upacara besar di Pura Dalem Pengastulan pada tahun 2019. Saat itu, muncul keinginan untuk menghadirkan Tapakan Ida Bhatari Ratu Ayu. Melalui Suri Desa Adat Pengastulan (Jro Made Lanang), Ida Bhatara Gede Dalem Pengastulan memberikan bisama atau piceket agar Jero Sari nanginin Tapakan Ida Bhatari Ratu Ayu saat odalan di Pura Dalem.
Proses tersebut berlanjut hingga Paruman Agung pada tahun 2021. Meski sempat berusaha menghindari penunjukan karena saat itu berdomisili di Denpasar, Jero Sari akhirnya menerima tanggung jawab spiritual tersebut.
-
Konsistensi Ngayah: Sejak 2021, ia secara konsisten ngayah setiap 15 hari sekali (Purnama dan Tilem) serta saat rangkaian upacara dan odalan di pura. Pelaksanaan pawintenan tahun ini menjadi pengesahan resmi atas pengabdian tulus yang telah dilaksanakannya selama lima tahun terakhir.
Keseimbangan Ajaran Siwa-Buddha
Hadirnya tiga Sulinggih dalam prosesi ini memiliki makna spiritual yang mendalam. Jero Sari menjelaskan bahwa perpaduan dua Sulinggih Siwa dan satu Sulinggih Buddha berkaitan erat dengan prinsip keseimbangan ajaran Siwa-Buddha yang diwariskan dalam tradisi keagamaan di Pura Dalem Desa Adat Pengastulan.
Ketiga Sulinggih yang memuput upacara tersebut adalah:
-
Ida Pedanda Gede Karang Ngenjung dari Griya Selat Duda
-
Ida Pedanda Gede Wana Yoga dari Griya Wanasari, Selat Duda
-
Ida Pedanda Gede Dwanga Purdaksa Kemenuh dari Griya Dencarik
“Tujuannya untuk penyeimbangan. Di sini juga dikenal ajaran Siwa-Buddha. Dengan kehadiran tiga Sulinggih, kami berharap pengabdian sebagai pemangku semakin mantap,” jelasnya.
Pada penghujung upacara, Sulinggih turut menyampaikan dharma wacana yang menekankan pentingnya saling menghormati, menjaga kerukunan, merawat keharmonisan di lingkungan keluarga maupun masyarakat, serta melestarikan warisan adat dan tradisi.
Pesan Kerukunan dan Kebersamaan
Setelah menjalani pawintenan, Jero Sari mengajak seluruh pengayah, prajuru, dan krama adat untuk terus bersinergi dan mengutamakan kedamaian demi kebahagiaan krama Desa Adat Pengastulan.
-
Sinergi dan Ketulusan: “Mari kita bersinergi. Tidak ada yang berkuasa atau merasa paling memiliki. Yang berkuasa adalah Ida Sesuhunan. Saya berharap semua pengayah tulus dan ikhlas ngayah kepada Ida Bhatari dan Ida Sesuhunan,” tuturnya.
Dalam rangkaian upacara yang sama, Jero Mangku Dalem Jro I Made Pariasa bersama istrinya turut diwinten pascamenikah kembali sesuai keputusan Paruman Desa Adat, guna melanjutkan peneguhan tanggung jawab pelayanan ritual kepada krama.
Prosesi bersejarah ini turut dihadiri Perbekel Desa Pengastulan beserta Sekretaris Desa, Bendesa Adat Pengastulan, unsur Sabha Desa, serta para tokoh dan warga masyarakat setempat. Seluruh rangkaian upacara berjalan lancar, sekaligus memperkuat nilai spiritual dan melestarikan tradisi adat di Desa Adat Pengastulan.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana














