News  

Gede Suradnya Anggota Fraksi DPRD Gerindra Buleleng Bayar Kaul di Pura Pucak Desa Adat Tista 3 Ekor Bulu Geles

Balijani.id, 21 Okt 2025, 05:50 WIB

Singaraja, Balijani.id| Upacara Pujawali/ Piodalan di Pura Pucak, Desa Adat Tista, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, berlangsung penuh makna spiritual. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Buleleng, Gede Suradnya, datang khusus untuk menunaikan kaul atau janji sucinya di hadapan Ida Betara yang melinggih di Pura tersebut.

Suradnya menuturkan bahwa hubungan batinnya dengan Pura Pucak sudah terjalin sejak masa remajanya. Ia merasa memiliki kedekatan khusus dengan pura itu, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan spiritualnya.

“Awal perlu saya sampaikan bahwa keberadaan Pura Pucak ini di Desa Tista. Sejak saya masih SMA, saya sudah sering datang ke sini. Jadi ada hubungan yang sangat khusus antara Pucak dan pribadi saya,” ungkapnya.

Menurutnya, kaul yang ia tunaikan kali ini merupakan wujud rasa syukur atas berkah yang selalu ia rasakan dari Ida Betara di Pura Pucak.

“Terkait upacara di Pura Pucak, saya benar-benar bayar kaul. Saya meyakini bahwa Ibu Betara yang melinggih di Pura Pucak ini betul-betul kami kagumi dan yakini, setiap ada permohonan selalu diberkati,” ujarnya penuh keyakinan.

Ia juga menyampaikan bahwa kehadirannya bukan hanya bentuk pemenuhan janji pribadi, tetapi juga wujud tanggung jawab moral terhadap kelestarian adat dan spiritualitas di Desa Tista.

“Sejak muda saya sudah ikut di sini, jadi saya merasa ikut memiliki Pura Pucak ini. Harapan saya, adat yang berkembang di Desa Tista agar selalu eksis, bertahan, dan masyarakatnya bersama-sama menjaga kesakralannya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Suradnya yang akrab disapa “Gedek” juga menegaskan pentingnya menjaga otonomi desa adat tanpa intervensi pihak luar.

“Desa adat itu bersifat otonom. Awig-awiglah yang mengatur kehidupan adat di masing-masing desa, bukan aturan pemerintah dinas,” tegasnya.

Ia menilai, adat adalah urusan spiritual yang tidak bisa dipisahkan dari keyakinan kepada Tuhan. Karena itu, segala bentuk perubahan terhadap tatanan adat perlu dihindari.

“Saya sangat mengapresiasi adat di sini karena masih seperti dulu. Adat tidak boleh diperbarui, tapi harus dilestarikan sebagaimana diwariskan oleh leluhur,” tuturnya.

Walau berasal dari Desa Anturan, Gede Suradnya mengaku telah menjadi bagian dari masyarakat adat Tista. Ia berkomitmen untuk terus hadir dalam setiap upacara keagamaan di Pura Pucak sebagai bentuk pengabdian spiritual.

“Setiap Pujawali di sini, kami selalu hadir untuk melaksanakan persembahyangan. Walaupun kami warga Anturan, kami merasa sudah menjadi bagian dari warga adat Tista,” katanya.

Menutup pernyataannya, Gede Suradnya menyampaikan harapan agar Desa Adat Tista tetap kuat menjaga warisan leluhur dan kesakralan Pura Pucak.

“Harapan kami, Desa Adat Tista selalu eksis, bertahan selama-lamanya, dan menjadi semakin sakral ke depan,” ujarnya.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru