BULELENG, Balijani.id | Di kala sebagian besar krama pura baru melangkah masuk membawa banten dengan pakaian adat bersih dan rapi, sekelompok krama lain justru telah berpeluh sejak fajar menyingsing. Mereka adalah tim Saye—seksi sibuk yang mengemban tugas ayah-ayahan bergiliran demi kelancaran upacara Pujawali atau Odalan.
Peran kaum Saye adalah napas bagi keberlangsungan piodalan. Jauh sebelum puncak karya digelar, mereka telah bergelut dengan kesibukan awal: merangkai busung (janur), mejejahitan, membersihkan areal pura, hingga menata tempat upacara.

Tak hanya itu, dapur pura menjadi ‘medan tempur’ utama mereka. Pasangan suami-istri dari tiap keluarga (karang) bahu-membahu membagi peran. Kaum pria sibuk mebat—mengolah olahan daging dan lawar khas untuk upakara maupun konsumsi warga. Sementara kaum wanita tanpa henti menyiapkan perlengkapan banten, kue-kue tradisional, hingga menyeduh kopi hangat untuk menjaga stamina para pekerja. Dari pengaturan logistik hingga mengelola dana belanja urunan krama, semuanya diatur secara teliti.
Prinsip Saye sederhana namun mendalam: paling awal datang, paling akhir pulang. Kedisiplinan dan semangat gotong royong ini dijalani tanpa keluh kesah. Hingga di penghujung karya nanti, tanggung jawab mereka ditutup secara transparan melalui laporan keuangan dan kegiatan saat sangkepan (rapat adat).
Apresiasi berupa porsi lawar lebih saat pembagian hasil mebat hanyalah simbol kecil. Sebab, sejatinya, senyum puas krama dan khidmatnya Pujawali adalah bentuk ‘upah’ spiritual tertinggi bagi dedikasi tulus tim Saye.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana














