Ny. Putri Koster Ajak ASN dan Masyarakat Cintai Wastra Bali, Perkuat UMKM dan Lestarikan Tenun Tradisional

Balijani.id, 28 Jul 2026, 15:41 WIB
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster saat memberikan sambutan pada pembukaan Dekranasda Bali Fashion Day Wastra Hita Kara

DENPASAR, Balijani.id | Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat Bali untuk semakin mencintai serta menggunakan wastra Bali. Langkah ini dinilai sebagai wujud nyata pelestarian warisan budaya sekaligus penguat perekonomian perajin lokal.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Dekranasda Bali Fashion Day bertajuk “Wastra Hita Kara” di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Utama Bank BPD Bali, Direktur Utama Perumda Kerta Bali Saguna, perwakilan BaliMall.id, Ketua Dekranasda Kabupaten Klungkung, serta para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam sambutannya, Ny. Putri Koster menegaskan bahwa pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) terus menjadi fokus utama Dekranasda Bali. Melalui sinergi bersama Bank BPD Bali dan berbagai pemangku kepentingan, Dekranasda Bali secara konsisten memberikan pendampingan sekaligus memperluas akses pasar bagi produk kerajinan lokal.

Ia mengungkapkan, pameran IKM Bali Bangkit yang digulirkan sejak Maret lalu kembali mencatatkan kinerja positif. Hingga saat ini, total nilai transaksi yang berhasil dibukukan mencapai kurang lebih Rp 32 miliar.

“Ajang Pesta Kesenian Bali memberi dampak sangat besar terhadap peningkatan penjualan produk UMKM. Kami menyediakan wadah pameran secara gratis bagi para pelaku usaha, selama mereka berkomitmen mengikuti aturan yang ditetapkan,” ujarnya.

Selain pameran, Dekranasda Bali secara rutin menggelar peragaan busana setiap bulan sebagai ajang promosi. “Tahun ini kami tidak mengikuti ajang Kriya Nusa, sehingga kami hadirkan Fashion Week agar para desainer dan perajin tetap memiliki panggung untuk memperkenalkan karya-karya terbaik mereka,” jelas Putri Koster.

Ajak ASN Beli dan Kenakan Karya UMKM Lokal

Pada kesempatan tersebut, Ny. Putri Koster mengajak para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemprov Bali untuk memberikan dukungan konkret, tidak sekadar simbolis, dengan cara membeli dan mengenakan produk-produk buatan IKM Bali Bangkit.

“Kalau kita ingin UMKM maju, mari kita mulai dengan membeli dan memakai produknya. Saat ini omzet IKM Bali Bangkit terus meningkat, dan hari ini ada empat OPD yang ikut tampil langsung dalam fashion show menggunakan busana karya UMKM Bali,” katanya.

Sejumlah perangkat daerah dan lembaga yang tampil memperagakan busana berbahan wastra Bali pada ajang tersebut antara lain Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali, RS Mata Bali Mandara, serta Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali.

Putri Koster menambahkan bahwa Dekranasda Bali Fashion Day merupakan bagian dari Trilogi Dekranasda—yang mencakup Fashion Day, Fashion Week, dan Road Show—sebagai upaya berkelanjutan memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis wastra Bali. Ia pun mendorong para perancang busana Bali untuk menjadi pencipta tren (trendsetter).

“Desainer harus menjadi trendsetter, sehingga masyarakat Bali bisa tampil modis tetapi tetap berakar kuat pada identitas budaya sendiri,” tegasnya.

Pelindungan Hukum Kain Tenun Tradisional

Di akhir arahannya, Ny. Putri Koster mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan kain tenun tradisional Bali di tengah maraknya pemalsuan dan peniruan motif.

Ia menekankan bahwa kain Endek Bali telah resmi memperoleh pengakuan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), sedangkan kain Gringsing Tenganan telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG). Instrumen hukum ini sangat krusial untuk melindungi keaslian produk sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin di daerah.

“Kalau kita benar-benar mencintai kain tenun Bali, kita harus tahu bagaimana menjaga kelestariannya. Pelindungan terhadap wastra tradisional adalah bentuk penghormatan kepada para perajin sekaligus investasi bagi masa depan budaya Bali,” pungkasnya.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru