Putri Koster: Perlindungan Endek Bali Harus Dilakukan dari Hulu hingga Hilir

Balijani.id, 3 Okt 2026, 18:08 WIB
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, saat memberikan arahan pentingnya perlindungan kain tenun Endek Bali dari hulu hingga hilir dalam ajang Journey of Wastra di Badung, Jumat (2/10/2026).

BADUNG, Balijani.id | Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, menegaskan pentingnya perlindungan kain tenun tradisional Endek Bali secara menyeluruh, mulai dari proses produksi di tingkat hulu hingga pemasaran di tingkat hilir. Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menjaga identitas Endek sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat daya saing serta kesejahteraan para perajin.

Penegasan tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat menghadiri gelaran Journey of Wastra, yang merupakan serangkaian peringatan HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel di Beach Gate, Kabupaten Badung (02/10/2026).

Menjaga Kualitas dan Karakter Warisan Leluhur

Dalam arahannya, Ny. Putri Koster menyampaikan bahwa pelestarian Endek Bali tidak boleh hanya berfokus pada upaya di hilir seperti peningkatan penggunaan, promosi, dan pemasaran semata. Perlindungan pada hulu dan proses produksi sangat vital agar kualitas, motif, dan karakter khas Endek Bali tetap terjaga dari pergeseran yang berisiko mengikis identitasnya.

“Untuk menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali, harus ada upaya perlindungan dari hulu hingga hilir. Ketika di hilir keberadaannya mulai diangkat, maka di hulu dan bagian tengahnya juga harus dijaga. Jangan sampai produksinya keluar dari koridor yang akhirnya membuat kita kehilangan identitas warisan leluhur,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa setiap daerah di Nusantara memiliki kekayaan wastra dengan keunikannya masing-masing. Kekhasan tersebut harus dipertahankan dan tidak boleh diseragamkan agar tetap memiliki nilai budaya yang kuat sekaligus nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat lokal.

Penegakan Hukum dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Selain masalah pelestarian teknis, ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap ide, desain, dan motif karya perajin dari tindakan penjiplakan. Regulasi dan penegakan hukum terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI) harus ditegakkan secara tegas agar hasil karya perajin tidak dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa hak.

“Kalau ada yang memiliki ide dan motif kemudian diambil oleh pihak lain, aturan dan sanksinya harus ditegakkan. Kalau kita diam saja, kita akan semakin kehilangan warisan kita. Jangan menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya karena masing-masing harus mempertahankan ciri khasnya,” lanjutnya.

Penguatan Ekosistem Pasar dan Kolaborasi Sektor

Dari sisi ekonomi, Dekranasda Provinsi Bali terus berkomitmen membangun ekosistem yang mempertemukan perajin dengan pasar. Salah satunya dengan menyediakan ruang pameran di Gedung Art Center Denpasar sebagai wadah pemasaran produk kerajinan lokal.

Meningkatnya permintaan Endek memang membuka peluang produksi dan pengembangan kreativitas motif baru, namun penambahan kuantitas tersebut harus diimbangi dengan standar kualitas yang konsisten.

Guna memastikan keberlanjutan tersebut, sinergi antara Dekranasda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta pemangku kepentingan lainnya perlu diperkuat sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing.

Regenerasi Konsumen dan Apresiasi Generasi Muda

Aspek penting lain yang disoroti adalah regenerasi konsumen. Generasi muda perlu didorong untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap produk lokal, sekaligus diberi kebebasan untuk mengeksplorasi penggunaan Endek sesuai tren fesyen terkini tanpa menghilangkan identitas dasarnya.

“Anak-anak muda harus kita ajarkan mencintai produk lokal terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan mereka menggunakan dan mengembangkannya sesuai selera masing-masing, tetapi tetap menggunakan bahan Endek asli yang kita miliki,” tuturnya.

Ajang Promosi Wastra Bali di Discovery Kartika Plaza Hotel

Kehadiran gelaran Journey of Wastra dinilai menjadi momentum efektif untuk memperkenalkan kekayaan wastra Bali kepada khalayak yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara. Acara ini diisi dengan pameran kerajinan IKM Bali, demonstrasi membatik, talk show, serta peragaan busana.

Sesi talk show menghadirkan pembicara kunci seperti Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian, Dickie Sulistya Aprilyanto; Creative Director, Idon Pande; serta Coordinator of Fashion Design, Tjok. Istri Ratna.

Rangkaian acara ditutup dengan peragaan busana yang memamerkan karya desainer kenamaan Bali seperti Cok Abi, Padmi, serta deretan desainer dari Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian. Melalui agenda ini, wastra Bali diharapkan tidak hanya mengukuhkan nilai identitas budayanya, tetapi juga terus memberi nilai tambah ekonomi bagi para pelaku industri kreatif lokal.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru