Denpasar, Balijani.id| Isu sampah di Bali pelan-pelan berubah dari soal teknis menjadi ujian daya tahan. Bukan hanya bagi sistem, tapi juga bagi orang-orang yang memilih berdiri di barisan depan perubahan. Di tengah kritik, keluhan, hingga serangan di media sosial, Ni Putu Putri Suastini Koster tetap melangkah tanpa mundur.
Ketua TP PKK Provinsi Bali yang juga Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Palemahan Kedas itu sadar betul, yang ia hadapi bukan sekadar tumpukan limbah rumah tangga. Yang lebih berat adalah menggeser kebiasaan lama yang sudah mengendap puluhan tahun di kepala banyak orang.
Selama ini, pola kumpul angkut buang seolah menjadi jalan pintas yang diterima begitu saja. Sampah dianggap selesai ketika sudah meninggalkan halaman rumah. PSBS datang membawa logika sebaliknya, sampah harus dibereskan sejak dari sumbernya, dari dapur, dari halaman sendiri.
Gagasan yang di atas kertas tampak masuk akal itu, di lapangan justru sering memantik resistensi.
Putri Koster tak menampik bahwa penolakan kerap muncul, bahkan dari lingkar terdekat masyarakat. Di era media sosial, menurutnya, arus informasi yang deras tak selalu diiringi pemahaman yang utuh. Potongan narasi dan komentar provokatif mudah menyebar, pelan-pelan menggerus semangat warga yang sedang belajar mengubah kebiasaan.
Ia juga mendengar langsung keluhan para kepala desa yang merasa kewalahan. Mengajak warga memilah sampah dari rumah, mengolah organik, mengurangi plastik, dianggap menambah beban baru di tengah rutinitas yang sudah padat. Tidak sedikit yang lebih dulu pesimistis sebelum benar-benar mencoba.
Bagi Putri Koster, di situlah letak ujian sesungguhnya. Bukan pada sulitnya membuat aturan, tetapi pada keberanian menjalankannya saat situasi terasa tidak nyaman. Ia menilai kepemimpinan di tingkat desa menjadi kunci, karena perubahan perilaku tak mungkin lahir hanya dari surat edaran atau baliho imbauan.
Ia juga mengakui jarak antara kebijakan dan praktik di lapangan sering kali jauh. Program yang terlihat rapi di meja rapat bisa berhadapan dengan berlapis-lapis kendala saat bersentuhan dengan realitas sosial. Namun ia memilih melihat hambatan sebagai bagian dari proses belajar kolektif, bukan alasan untuk berhenti.
Target pemerintah daerah agar pengelolaan sampah berbasis sumber meluas dalam beberapa tahun ke depan, baginya, memang bukan ambisi jangka pendek. Fase yang berjalan sekarang adalah fase gesekan: ada yang mendukung, ada yang menolak, ada pula yang menyerang secara personal. Ia sendiri tak luput dari cibiran.
Alih-alih terpukul, Putri Koster justru menyebut serangan itu sebagai konsekuensi dari perubahan besar. Ia menilai, setiap gagasan yang mencoba menggeser zona nyaman pasti akan mengundang reaksi. Yang terpenting, menurutnya, arah kebijakan tetap berpijak pada kepentingan lingkungan dan masa depan Bali.
Di sisi lain, ia menyoroti persoalan klasik yang kerap luput dari sorotan, yakni lemahnya penegakan aturan. Regulasi soal pengelolaan sampah sudah memuat ancaman denda dan sanksi pidana, namun penerapannya nyaris tak terdengar. Ketika aturan tak pernah benar-benar ditegakkan, pesan perubahan menjadi kehilangan taring.
Dalam kerja-kerja lapangan, jaringan PKK disebutnya berperan strategis. Para kader yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan keluarga dinilai lebih efektif menanamkan kebiasaan baru dibanding sekadar pendekatan formal. Edukasi dari rumah ke rumah, dari ibu ke ibu, diyakini menjadi jalur sunyi yang justru menentukan.
Putri Koster juga menegaskan, perannya sebagai duta PSBS bukan jabatan dengan fasilitas berlebih. Ia menyebut tugas itu dijalankan tanpa pos anggaran khusus maupun honor, mengandalkan sinergi dengan berbagai pihak dan kerja sosial para kader.
Di ujung pernyataannya, ia mengajak publik mengalihkan energi dari saling melemahkan menjadi saling menguatkan. Perdebatan, menurutnya, sah saja. Namun jika perubahan pengelolaan sampah ingin benar-benar terwujud, dukungan nyata di tingkat rumah tangga jauh lebih menentukan dibanding gaduh di ruang digital.
Bagi Putri Koster, waktu akan menjadi penilai paling adil. Jika gerakan ini berhasil, Bali tak hanya lebih bersih, tetapi juga membuktikan bahwa perubahan besar memang selalu menuntut keteguhan mental dari mereka yang memilih tidak menepi.
[ Editor : Sarjana ]













