News  

Politisi Ikut Framing Bali Sepi Sama Saja Merusak Sumber Hidup Masyarakat

Balijani.id, 27 Des 2025, 13:56 WIB

Denpasar, Balijani.id| Ada cara paling kejam dalam berpolitik yaitu merusak sumber hidup masyarakat sendiri demi kepuasan menjatuhkan lawan politik. Itulah yang terjadi sekarang ini, ketika ada politisi ikut menyebarkan narasi Bali sepi yang digoreng di media sosial. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dampaknya mematikan.

Ia bukan sekadar opini, melainkan sinyal buruk yang meluncur ke pasar global
Pariwisata Bali hidup dari kepercayaan. Sekali kepercayaan itu digoyang, dampaknya menjalar cepat. Ketika politisi ikut mem-framing Bali sepi, mereka tak sedang mengkritik kebijakan, melainkan mematikan penghidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada pariwisata.

Baik yang pekerja di hotel, pemandu wisata, sopir, pedagang kecil, hingga pelaku UMKM di desa-desa
Ironisnya, framing ini sering datang dari orang Bali sendiri. Demi menjatuhkan pihak yang sedang menjabat atau lawan politiknya, Citra Bali dijadikan alat.

Seolah pulau ini tak lebih dari properti politik yang boleh dikorbankan. Padahal yang dibakar bukan kursi kekuasaan, melainkan dapur masyarakat Bali.
Kritik seharusnya mendorong perbaikan. Framing justru menciptakan ketakutan. Ketika politisi ikut latah menggoreng bahwa bali sepi, yang mereka lakukan bukan kontrol kekuasaan, melainkan sabotase ekonomi. Mereka mungkin menang di linimasa, tapi masyarakat Bali kalah di dapur masing-masing.

Dalam pariwisata, persepsi sering lebih berbahaya daripada krisis nyata. Sekali kesan Bali lesu tertanam, dampaknya tak bisa dibalikkan dengan satu klarifikasi. Di sinilah framing berubah menjadi tindakan yang setara dengan membunuh secara perlahan mata pencaharian masyarakat sendiri.

Bali tentu tidak kebal kritik. Masalah lingkungan, tata ruang, dan keberlanjutan perlu terus dibenahi. Namun ada garis tegas antara kritik dan perusakan. Menjatuhkan citra Bali demi kepuasan politik adalah tindakan tidak bermoral.

Dalam persaingan destinasi global yang kian keras, Bali tidak butuh politisi yang membakar lumbungnya sendiri. Sebab siapa pun yang memilih mematikan sumber hidup masyarakat demi ambisi sesaat, sejatinya sedang menggali lubang bagi dirinya sendiri.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru