Buleleng, Balijani.id|Om Unity Bali di Desa Sudaji kembali menjadi ruang pertemuan lintas budaya dan gagasan global. Tempat yang dikenal sebagai pusat pembelajaran pariwisata berbasis alam ini menjadi lokasi berkumpul dan diskusi 24 mahasiswa serta dua dosen dari University of Applied Sciences and Art Northwestern Switzerland bersama mahasiswa Undiksha dalam proyek kajian Dolphin Tourism Lovina.
Kegiatan yang digelar di Om Unity Bali tersebut merupakan bagian dari program internasionalisasi Undiksha, yang mempertemukan perspektif Barat dan Timur dalam melihat pengelolaan pariwisata lumba-lumba di Lovina, Buleleng. Lokasi Desa Sudaji dipilih karena dinilai merepresentasikan praktik pariwisata berbasis komunitas dan keberlanjutan.
Ketua Unit Pengelolaan Mahasiswa dan Tenaga Kerja Undiksha, Nana Trianasari, M.M., Ph.D., menjelaskan bahwa kolaborasi ini dirancang sebagai proyek lapangan bersama dengan pendekatan lintas budaya.
“Kami tujuannya adalah selain meningkatkan internasionalisasi kampus Undiksha, kami bekerja sama bersama mahasiswa S2 Ilmu Manajemen dan mahasiswa School of Business International Business dari University of Applied Sciences and Art Northwestern Switzerland bekerja sama dalam membahas Dolphin Tourism di Lovina,” ujarnya.
Menurut Nana, diskusi yang berlangsung di Om Unity Bali memberi ruang pertukaran sudut pandang yang berbeda antara mahasiswa Eropa dan mahasiswa Indonesia, khususnya terkait kontribusi nyata bagi pelaku pariwisata lumba-lumba di Lovina.
“Jadi semacam project bersama dari perspektif yang berbeda. Mereka orang Barat dan kita dari Timur. Apa yang bisa kita kontribusikan kepada pelaku-pelaku pariwisata dolphin di Lovina, itu pada intinya,” katanya.
Ia menegaskan pemilihan Buleleng dan Desa Sudaji bukan tanpa alasan. Kawasan ini menawarkan alternatif wajah pariwisata Bali yang tidak bertumpu pada keramaian, tetapi pada ketenangan desa dan kesadaran lingkungan.
“Mereka sudah tahu bagian barat Bali yang sangat turistik, jadi mereka mencari alternatif lain. Kebetulan Undiksha memang menggalakkan internasionalisasi. Ini program mobilitas internasional yang membantu staf dan mahasiswa mengerjakan proyek lapangan bersama,” jelasnya.
Nana juga menilai Om Unity Bali sebagai contoh konkret pengelolaan pariwisata desa yang konsisten. Desa Sudaji bahkan dikenal sebagai salah satu desa dengan prestasi kebersihan tingkat nasional.
“Desa ini peringkat kedua nasional untuk kebersihan desa. Kami sudah lama bekerja sama dengan Om Unity. Homestay dijalankan secara alami, berbasis sumber daya internal. Ini contoh yang baik dan Om Unity juga berkali-kali menerima penghargaan, jadi saya tidak pernah ragu mengajak mahasiswa asing ke sini,” ungkapnya.
Sementara itu, Made Dede Ari Wijaya, mahasiswa Undiksha Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam kegiatan yang berlangsung di Om Unity Bali tersebut.
“Menurut saya ini pengalaman yang sangat berkesan karena saya bisa mengenalkan budaya Bali dan pariwisata yang ada di Buleleng. Dolphin Watching itu merupakan tulang punggung pariwisata dan mata pencaharian masyarakat Buleleng,” ujarnya.
Ia berharap interaksi yang terbangun di Desa Sudaji dapat memberi sudut pandang baru bagi pengembangan pariwisata daerah.
“Kami berharap bisa mendapat insight dari orang-orang luar Bali, dari Barat, untuk memajukan pariwisata Bali khususnya pariwisata Buleleng,” katanya.
Melalui pertemuan dan diskusi yang berpusat di Om Unity Bali, Desa Sudaji, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga memberi masukan konkret bagi pengelolaan pariwisata lumba-lumba Lovina yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat lokal.
[ Editor : Sarjana ]







