Mengasah Pikiran dan Kesucian: Hikmat Tradisi Nyiramang Paice di Pura Desa Adat Tista

Balijani.id, 25 Okt 2026, 10:20 WIB
Krama Desa Adat Tista, Baktiseraga, saat melangsungkan prosesi sakral Nyiramang Paice sebagai wujud bakti spiritual dan pelestarian warisan leluhur.

BULELENG, Balijani.id | Dalam rangkaian Pujawali di Pura Desa, Desa Adat Tista, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, krama desa setempat kembali menggelar ritual sakral Nyiramang Paice pada Selasa (4/11/2025). Tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun setiap 210 hari sekali (enam bulan kalender Bali) ini bertempat satu hari menjelang puncak upacara Purnama Kalima.

Nyiramang Paice bukan sekadar pembersihan benda pusaka secara fisik, melainkan sebuah simbol spiritual yang mendalam. Ritual ini bertujuan untuk menyucikan paice yang berstana di Gedong Gaduh dari kotoran dan energi negatif, sekaligus menjadi sarana memohon keselamatan serta ketajaman pikiran bagi krama desa.

Secara filosofis, prosesi penyucian pusaka berupa benda bersejarah, batu permata, hingga senjata warisan leluhur ini melambangkan pengasahan kecerdasan dan ketajaman budi pekerti. Di sisi lain, perawatan berkala ini juga menjaga agar benda-benda sakral tersebut tetap awet dan terawat dari risiko kerusakan maupun karat.

Mengenal hikmat ritual sakral Nyiramang Paice di Pura Desa Adat Tista Buleleng, tradisi penyucian pusaka warisan leluhur menyambut Purnama Kalima.

Semarak Prosesi dan Nuansa Kebersamaan

Prosesi Nyiramang Paice berlangsung penuh dengan kepatuhan terhadap dresta (tradisi lokal) yang berlaku. Upacara diawali dengan persembahan banten (sesajen) sebagai bentuk aturan pemohonan izin dan penghormatan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta roh para leluhur.

Setelah sesajen dihaturkan, benda-benda paice diwangsuh atau dibersihkan menggunakan air suci dari sumber mata air alami (kelebutan) serta air kumkuman yang diresapi aroma bunga-bungaan.

Keunikan tradisi di Desa Adat Tista ini terlihat saat proses pembersihan fisik paice. Pembersihan wajib dilakukan oleh para krama lanang (warga laki-laki) yang diiringi dengan sorak-sorai penuh semangat serta alunan tabuh gamelan berirama dinamis.

Usai disucikan dan dikeringkan, seluruh paice dibungkus rapi menggunakan kain mori putih sebelum dikembalikan dan disimpan di stana asalnya dengan penuh rasa hormat.

Penutup dan Pemujaan Bersama

Rangkaian ritual sakral ini diakhiri dengan upacara pemujaan dan persembahyangan bersama seluruh krama desa. Persembahyangan dipimpin langsung oleh Jro Mangku Taman, Jro Mangku Pucak, Jro Mangku Bencingah, Jro Gede Angkat, serta dihadiri oleh Prajuru Desa Adat, Kelian Kerandan (Kerandan Lanang Istri), unsur Tridatu, dan Pecalang.

Melalui tradisi Nyiramang Paice, krama Desa Adat Tista tidak hanya memperlihatkan bakti spiritual kepada Sang Pencipta dan leluhur, melainkan juga meneguhkan komitmen untuk terus menjaga kebudayaan, nilai-nilai kebersamaan, serta kesucian tradisi di tanah Desa Adat Tista Desa Baktiseraga.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru