“Ketika Manusia Terpisah dari Dirinya”

Refleksi Kebangsaan Mayjen TNI (Purn) Prof. Rido Hermawan

Balijani.id, 3 Okt 2026, 12:52 WIB
Ilustrasi refleksi kebangsaan mengenai keterpisahan manusia dari alam dan dirinya sendiri

JAKARTA, Balijani.id | Di penghujung Agustus 2026, dunia disuguhi dua kabar duka dari dua ujung Asia. Meski tampak berbeda, keduanya sejatinya berakar dari persoalan yang sama. Di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan kembali meluas akibat kemarau panjang yang diperparah El Niño berintensitas sangat kuat. Ribuan titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan. Kabut asap menyelimuti permukiman, mengganggu jarak pandang, memicu ribuan kasus ISPA, hingga merangsek ke negara tetangga.

Di belahan bumi lain, pada 26 Agustus 2026, runtuhnya gletser di kawasan Himalaya memicu banjir bandang dahsyat di sepanjang Sungai Trishuli dan Bhote Koshi. Banjir menerjang permukiman di Distrik Rasuwa dan Nuwakot, Nepal, hingga menembus perbatasan Tiongkok-Tibet. Ratusan orang dilaporkan tewas dan lebih dari tiga ribu lainnya hilang.

Dua peristiwa di negeri yang berjauhan ini dipicu oleh hal yang berbeda—satu oleh api, satu oleh es. Namun, keduanya menyampaikan pesan yang sama: alam telah kehilangan keseimbangannya, dan manusia baru menyadari keterikatannya dengan alam setelah bencana datang.

Paradoks Peradaban Modern

Dalam tulisannya, Mayjen TNI (Purn) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc., mempertanyakan paradoks peradaban kiwari. Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi mampu mendekatkan yang jauh, ekonomi menciptakan kemudahan, dan informasi berpindah dalam hitungan detik. Namun di tengah kemajuan itu, manusia justru menghadapi persoalan mendasar: kesepian, kecemasan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan krisis rasa percaya.

“Mengapa kemajuan tidak selalu membuat kehidupan menjadi lebih baik? Barangkali karena selama ini kita terlalu sibuk membangun dunia di luar diri, tetapi lupa membangun manusia yang akan menghuninya,” tulis Rido.

Menurutnya, krisis kehidupan bermula dari sesuatu yang dekat: hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Manusia modern semakin sering mengukur keberhasilan dari apa yang dimiliki, jabatan yang dicapai, kekuasaan yang diperoleh, atau pengakuan orang lain. Ukuran “siapa saya” telah bergeser menjadi “apa yang saya punya” dan “seberapa jauh saya terlihat”.

Kearifan Sunda: Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter

Rido mengingatkan kembali pada kearifan lokal yang merumuskan ukuran kematangan pribadi secara utuh. Pikukuh masyarakat adat Sunda mengenal lima watak: Cageur (sehat lahir batin), Bageur (berbudi baik), Bener (jujur dan lurus), Singer (waspada dan peka), serta Pinter (cerdas dan berpengetahuan).

Kelima watak ini tidak diletakkan berjenjang karena keutuhan pribadi lahir ketika kelimanya berjalan bersamaan. Sehat tanpa kebaikan budi bisa melahirkan kecongkakan, cerdas tanpa kejujuran bisa memicu kelicikan, dan kewaspadaan tanpa kebaikan hati dapat berubah menjadi kecurigaan yang merusak.

Ukuran keberhasilan holistik inilah yang mulai ditinggalkan dan tergantikan oleh ukuran dangkal. Manusia kehilangan ruang untuk mengenali dirinya, memahami batas kebutuhannya, dan menemukan makna keberadaannya.

Keterpisahan manusia dari dirinya juga memengaruhi cara memperlakukan alam. Ketika manusia melihat dirinya sebagai pusat kehidupan, alam cenderung dipandang sebatas objek eksploitasi—hutan menjadi kayu, tanah menjadi aset, sungai menjadi sumber ekonomi, laut menjadi ruang eksploitasi, dan gunung menjadi cadangan mineral.

Padahal, masyarakat adat Sunda, khususnya komunitas Kanekes, mewariskan filosofi ekologis yang mendalam: “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak” (gunung tidak boleh diratakan, lembah tidak boleh dirusak). Larangan ini merupakan kesadaran ekologis yang jauh mendahului konsep “pembangunan berkelanjutan”.

“Hutan yang hilang tidak hanya berarti berkurangnya pohon, tetapi juga hilangnya sumber air, rusaknya ekosistem, meningkatnya risiko bencana, dan berkurangnya ruang hidup bagi generasi berikutnya,” tegas Rido.

Ketika Manusia Kehilangan Sesamanya

Keterputusan berikutnya terjadi dalam hubungan antaramanusia. Masyarakat yang dibangun di atas fondasi kompetisi membuat manusia melihat sesamanya sebagai pesaing. Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja melalui teknologi, tetapi belum tentu mampu benar-benar mendengarkan. Kita terhubung dalam jaringan sosial, tetapi belum tentu merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Kearifan Sunda kembali mengingatkan lewat nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh (saling mengasihi, mengasah, dan mengasuh), serta sikap Someah Hade Ka Semah (keramahan tulus kepada siapa pun) sebagai fondasi kepercayaan sosial.

Negara Sebagai Penjaga Kehidupan

Rido menegaskan bahwa cara pandang ini membawa konsekuensi bagi tata kelola negara. Negara tidak cukup hanya menjadi pengatur dan pengendali, melainkan harus hadir sebagai penjaga kehidupan. Tata kelola negara harus melihat manusia, masyarakat, ekonomi, lingkungan, pendidikan, kebudayaan, serta pertahanan dan keamanan sebagai satu ekosistem yang terpadu.

“Pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan lingkungan, pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial, kemajuan teknologi dengan etika, dan kekuatan negara dengan kesejahteraan rakyat,” tulisnya.

Sebab itu, keberhasilan negara tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau volume pembangunan infrastruktur. Kita perlu bertanya: apakah manusianya semakin bermartabat, masyarakatnya semakin adil, alamnya semakin terjaga, hubungan antarwarganya semakin kuat, dan generasi mendatang masih memiliki ruang kehidupan yang layak?

Indonesia dan Ingatan Tentang Keselarasan

Bagi Indonesia, gagasan tentang kehidupan yang saling terhubung bukanlah hal baru. Kearifan Nusantara telah lama memegang nilai keseimbangan antara manusia, masyarakat, alam, dan Nilai-Nilai Luhur. Gotong royong, musyawarah, keselarasan dengan alam, serta tanggung jawab komunitas merupakan kekuatan sosial bangsa yang mengakar di berbagai pelosok Nusantara.

“Kita tidak harus kembali ke masa lalu. Namun, kita perlu menengok kembali nilai-nilai yang pernah membuat manusia Nusantara memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri. Warisan itu tidak boleh berhenti sebagai simbol budaya, melainkan harus diterjemahkan menjadi cara berpikir dalam pendidikan, ekonomi, pembangunan, dan tata kelola pemerintahan,” jelasnya.

Masalah terbesar bangsa saat ini bukanlah ketidakmampuan untuk membangun. Manusia sangat ahli membangun gedung, jalan, kota, industri, hingga sistem ekonomi dan teknologi. Justru yang sering terlupakan adalah pertanyaan mendasar: untuk siapa semua itu dibangun, dan kehidupan seperti apa yang ingin kita wariskan?

Pembangunan seharusnya tidak sekadar menghasilkan benda, tetapi juga membangun kualitas manusia; tidak hanya menciptakan kekayaan, tetapi juga keadilan; tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan; serta tidak hanya menguasai alam, tetapi juga merawatnya.

“Ketika manusia kembali menemukan dirinya, ia akan lebih mudah memahami hubungannya dengan alam. Ketika ia menghormati alam, ia akan menyadari keterikatannya dengan sesama. Ketika ketiganya dipahami sebagai satu kesatuan, pembangunan tidak lagi sekadar proyek ekonomi, melainkan berubah menjadi ikhtiar membangun peradaban.”

Pada akhirnya, menata kembali tatanan kehidupan bukanlah upaya untuk menguasai dunia, melainkan ikhtiar untuk belajar kembali hidup sebagai bagian dari dunia yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.

Penulis: Mayjen TNI (Purn) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc. (Pengamat Pertahanan, Kebudayaan, dan Kebangsaan)

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru