Menolak Punah di Era Digital: Asa Putri Koster Pertahankan Napas Aksara Bali

Balijani.id, 11 Sep 2026, 11:15 WIB
Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster dalam Seminar Aksara Kawi dan Bali bertajuk “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Kamis (10/9).

DENPASAR, Balijani.id | Aksara bukan sekadar susunan lambang bunyi, melainkan jejak peradaban dan penanda penting identitas suatu bangsa. Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali kini terus dipacu agar tidak sekadar menjadi artefak museum, melainkan tetap hidup dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tegas tersebut disampaikan oleh Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, saat menghadiri Seminar Aksara Kawi dan Bali bertajuk “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026). Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan masyarakat Bali untuk terus mempelajari, menggunakan, dan mewariskan aksara lokal kepada generasi muda.

Putri Koster menekankan bahwa Bali patut berbangga karena menjadi salah satu dari sedikit daerah di Indonesia yang memiliki sistem aksara mandiri peninggalan leluhur. Namun, perlindungan budaya tidak akan cukup jika hanya mengandalkan payung hukum seperti Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018.

“Ketika kita sudah beralih dan tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bersama bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali ini tanpa memandang batasan usia,” ujar Putri Koster.

Ia juga berharap forum seperti Seminar “Nyastra” tidak berhenti sebatas wacana atau ruang diskusi belaka, melainkan mampu melahirkan karya nyata seperti penerbitan buku dan bahan bacaan kreatif yang dapat dimanfaatkan langsung oleh generasi muda.

Teknologi Sebagai Pelindung, Bukan Threat

Menanggapi tantangan zaman, Ketua Panitia Seminar, Wayan Sila Sayana, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi keberadaan aksara tradisional. Sebaliknya, digitalisasi justru membuka ruang gerak baru yang lebih luas.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini telah dikembangkan sebanyak 46 jenis font aksara Bali yang dirancang oleh para kreator huruf, baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempopulerkan kembali budaya lokal.

Adapun seminar tersebut menghadirkan dua pakar utama sebagai narasumber, yakni Peneliti Ahli Madya BRIN, Drs. I Gusti Made Suarbhawa, yang membawakan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara”, serta I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, yang memaparkan “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar”.

Melalui sinergi antara regulasi pemerintah, kesadaran masyarakat, dan adaptasi teknologi digital, aksara Bali diharapkan terus berkembang dan kokoh diwariskan dari generasi ke generasi.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru