Harmoni Wastra dan Busana Modern: Ibu Putri Koster Kawal ‘Wastra Hitakara’ untuk Lahirkan Desainer Berbakat dari Pelosok Bali

Balijani.id, 11 Sep 2026, 11:35 WIB
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ibu Putri Koster mengawal langsung perhelatan Dekranasda Bali Fashion Road Show "Wastra Hitakara" yang menampilkan karya desainer muda di Alun-Alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026).

BANGLI, Balijani.id | Alun-Alun Kota Bangli mendadak tampil anggun dan penuh warna pada Kamis (10/9/2026). Sebanyak 30 model melangkah anggun memperagakan ragam busana karya tujuh desainer muda Bali dalam perhelatan Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara”. Dikawal langsung oleh Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, acara ini bertujuan memperkuat ekosistem fesyen berbasis wastra sekaligus menjaring desainer-desainer berbakat dari seluruh kabupaten dan kota di Bali.

Pengembangan fesyen berbasis tenun tradisional seperti endek Bali menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan para perajin. Ibu Putri Koster menyoroti tantangan semakin berkurangnya jumlah penenun akibat minimnya penggunaan endek sebagai bahan sandang sehari-hari. Oleh karena itu, promosi kain tradisional tidak lagi cukup hanya berupa lembaran kain, melainkan harus diwujudkan menjadi busana modern yang relevan dan dapat dikenakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari maupun hari kerja.

“Perajin kain endek kita semakin sedikit karena minimnya masyarakat Bali yang memilih endek sebagai bahan sandang. Upaya memperkenalkan endek dalam bentuk busana terus saya lakukan. Bahkan, pada periode kedua ini saya menggandeng desainer, model, koreografer, hingga komposer untuk berkeliling Bali,” ujar Ibu Putri Koster.

Road show ini dirancang untuk menghidupkan rantai ekonomi kreatif dari hulu ke hilir dengan menghubungkan perajin, penjahit, desainer, model, hingga komposer musik. Dengan menggelarnya secara bergiliran setiap bulan di berbagai daerah, Dekranasda ingin memberikan ruang bagi desainer lokal agar berani tampil dan memamerkan karyanya.

Selain memperkuat industri fesyen, “Wastra Hitakara” menjadi wahana mengedukasi masyarakat tentang nilai filosofis di balik wastra Bali. Sebagai contoh, kain geringsing yang berasal dari kata gering (sakit) dan sing (tidak), membawa simbol doa untuk kesehatan dan keselamatan. Potensi warisan budaya ini telah terbukti berkelas dunia, terbukti ketika enam motif endek Bali dipilih oleh rumah mode internasional Dior untuk koleksinya pada periode sebelumnya.

Tiga Program Utama Dekranasda Bali

Guna mendukung keberlanjutan ekosistem ini, Dekranasda Bali mengusung tiga program utama:

Pada gelaran di Bangli, panggung busana dimeriahkan oleh karya tujuh desainer lokal:

Ketua Dekranasda Kabupaten Bangli, Ny. Sariasih Sedana Arta, menyambut hangat pelaksanaan acara ini dan berharap perajin serta IKM Bangli terdorong untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas lokal.

Acara ditutup dengan sesi peragaan di area catwalk, di mana para undangan yang hadir dapat secara langsung memilih dan membeli karya busana yang ditampilkan. Langkah ini menjadi bukti konkret dalam menghubungkan karya desainer lokal langsung dengan pasar pengguna.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru