News  

Babak Baru Pengelolaan Sampah Bali, Groundbreaking PSEL Denpasar Raya Resmi Dimulai

Balijani.id, 8 Jul 2026, 10:41 WIB
Rombongan menteri kabinet bersama Gubernur Bali Wayan Koster saat melakukan prosesi groundbreaking peletakan batu pertama proyek PSEL Denpasar Raya

Gandeng Danantara dan PLN, Proyek Senilai Rp3 Triliun Siap Olah 1.500 Ton Sampah per Hari Menjadi Energi Hijau

DENPASAR, Balijani.id | Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya resmi dimulai pada Rabu (8/7/2026).

Momentum groundbreaking ini menandai babak baru transformasi total pengelolaan sampah di Bali, bergeser dari pola tradisional kumpul-angkut-buang menuju sistem pengolahan modern terintegrasi yang diharapkan menjadi percontohan nasional.

Prosesi peletakan batu pertama ini dilakukan bersama oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, serta Gubernur Bali Wayan Koster.

Reduksi Emisi dan Pasokan Energi Hijau

Dalam laporannya, CIO Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa pembangunan PSEL Denpasar Raya merupakan implementasi nyata dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Proyek strategis bernilai sekitar Rp3 triliun ini dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan kapasitas olah mencapai 1.500 ton sampah per hari, atau setara dengan 500 ribu ton per tahun (sekitar 40 persen dari total timbulan sampah di Bali).

Selain mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga 80 persen, fasilitas modern ini diproyeksikan mampu memangkas emisi karbon sekitar 640 ribu ton CO2 per tahun serta menciptakan 1.208 lapangan kerja hijau.

“Dari sisi energi, PSEL ini akan menghasilkan energi hijau yang mampu memenuhi kebutuhan listrik bagi sekitar 100 ribu rumah tangga di Bali,” papar Pandu Sjahrir.

Ubah Paradigma Kawasan Pengolahan Sampah

CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa produksi listrik merupakan nilai tambah, sementara esensi utama dari proyek ini adalah resolusi tuntas masalah lingkungan. Merujuk pada fasilitas serupa di Tiongkok dan Jepang, Rosan memastikan teknologi ini bebas bau dan aman dibangun berdampingan dengan permukiman.

“Kita ingin mengubah paradigma bahwa tempat pengolahan sampah itu kotor. Fasilitas ini akan menjadi kawasan yang bersih, aman, bahkan menjadi pusat edukasi masyarakat,” tegas Rosan.

Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik proyek ini dan berharap pembangunannya dapat selesai lebih cepat pada akhir tahun 2027, sehingga persoalan sampah di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) bisa tuntas di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kehadiran PSEL ini dinilai strategis untuk memperkuat citra Bali di mata dunia, mengingat isu sampah, kemacetan, air, dan listrik selalu menjadi perhatian wisatawan internasional.

Sebagai jaminan keberlanjutan operasional jangka panjang, agenda groundbreaking ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) bersama PT PLN (Persero) yang menjadi landasan komersial penyerapan energi hijau dari PSEL Bali ke jaringan listrik nasional.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru