News  

Dituding Suap Rp500 Juta, dr. Grace Lande Bantah Isu RS Dekat Pura

Balijani.id, 9 Mar 2026, 13:42 WIB

Badung, Canggu, Balijani.id| Polemik pembangunan sebuah rumah sakit di kawasan Banjar Pipitan, Desa Canggu, Kabupaten Badung, Bali, terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Isu dugaan suap sebesar Rp500 juta kepada pemangku Pura Batur Pipitan mencuat dan memicu berbagai spekulasi terkait proses pembangunan fasilitas kesehatan tersebut.

Menanggapi isu itu, dr. Ni Putu Grace Lande, MARS, MH, yang diketahui sebagai pemegang saham sekaligus konsultan dalam pembangunan rumah sakit tersebut akhirnya memberikan klarifikasi. Dalam keterangannya kepada awak media, ia membantah keras tudingan adanya suap kepada pemangku pura.

Menurutnya, sejak awal rencana pembangunan rumah sakit di Banjar Pipitan, pihak pengempon pura sudah mengetahui rencana tersebut, termasuk pemangku Pura Batur Pipitan, I Nengah Sudarsana.

“Dari awal Jro Mangku Nengah Sudarsana sudah tahu bahwa di lokasi tersebut akan dibangun rumah sakit. Bahkan beliau yang melakukan prosesi ngeruwak tanahnya,” kata Ni Putu Grace Lande saat ditemui awak media.

Ia juga mempertanyakan munculnya penolakan yang baru berkembang belakangan, padahal menurutnya rencana pembangunan tersebut sudah diketahui sejak awal oleh pihak terkait.

“Kalau sekarang ada pihak-pihak yang tidak terima, kenapa baru muncul sekarang,” ujarnya.

Terkait legalitas pembangunan, dr. Grace menegaskan bahwa seluruh proses perizinan telah ditempuh sesuai aturan yang berlaku. Ia menyebut sejumlah dokumen penting telah diterbitkan melalui mekanisme resmi.

“Perizinan kami sudah lengkap. ITR sudah ada, KKPR juga sudah keluar. Semua diproses melalui jalur resmi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia kembali menegaskan bahwa isu suap Rp500 juta kepada pemangku pura tidak benar dan tidak pernah terjadi.

“Tidak ada nyogok Rp500 juta kepada Jro Mangku. Izin kami sudah lengkap, untuk apa saya menyogok sebesar itu,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Grace juga menceritakan latar belakang keluarganya. Ia menyebut memiliki garis keturunan dari Bali dan Nusa Tenggara Timur.

“Ayah saya dari Penarungan, Mengwi. Ibu saya dari Ende, NTT,” ujarnya singkat.

Sementara itu, polemik pembangunan rumah sakit yang disebut berada di sekitar kawasan Pura Batur Pipitan masih menjadi perhatian sejumlah pihak di masyarakat. Beberapa kalangan menilai keberadaan bangunan di dekat kawasan pura perlu mempertimbangkan aspek norma adat, estetika lingkungan, serta kesucian area pura.

Perdebatan mengenai proyek pembangunan tersebut pun masih terus bergulir. Sejumlah pihak berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui dialog terbuka dan mengedepankan aturan yang berlaku, sehingga pembangunan dapat berjalan tanpa menimbulkan konflik baru di tengah masyarakat.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru