Kesunyian Koster dan Perjuangan Menjaga Bali

Balijani.id, 31 Des 2025, 04:18 WIB

Denpasar, Balijani.id| Ia berjalan pelan, sering sendirian, Di kanan-kirinya suara gaduh cibiran, tudingan. Ada yang menyebutnya anti kritik. Ada yang bilang ia kaku, tak pandai komunikasi publik. Ada pula yang menertawakan langkah -langkahnya sebagai romantisme yang tak laku di zaman modal. Wayan Koster tetap berjalan.

Ia paham, Bali tidak jatuh seketika, melainkan perlahan dilemahkan oleh ribuan kompromi kecil yang dibiarkan.
Ketika langkah pertama dicemooh saat menandatangani larangan plastik sekali pakai, Koster sudah tahu risikonya. Telepon berdering. Protes datang.

Tuduhan dilontarkan mematikan usaha kecil, anti pasar, tidak ramah investasi. Ia mendengar semuanya. Namun setiap kali melihat lingkungan dan laut Bali yang mulai berubah warna, ia tahu keputusan yang benar sering kali tidak disukai.

Lalu ia memaksa sampah diselesaikan di sumbernya
Kritik pun mengeras. Pemerintah lepas tangan, kata mereka.Padahal yang ia lakukan justru sebaliknya, memaksa tanggung jawab sesuai kewenangan. Sampah sendiri urus sendiri, itu benar diamanatkan UU No 18 Tahun 2008.
Ketika pakaian adat diwajibkan, ia dicibir. Kembali ke masa lalu, kata mereka. Saat aksara Bali dipasang di ruang publik, ada yang tertawa kecil. Untuk apa? Koster tidak menjawab. Ia tahu, budaya yang ditertawakan hari ini sering kali disesali saat sudah hilang. Ia memilih bertaruh pada ingatan, bukan pada tren.

Di tengah ruang sunyi bernama Jakarta, di mana Bali kerap dipandang sebagai brosur wisata, bukan peradaban. Di sana, Koster melobi dengan berapa tokoh Bali yang memiliki visi sama. Menjelaskan. Meyakinkan. Menjawab keraguan satu per satu.

Tentang desa adat. Tentang subak. Tentang Bali yang tak bisa diseragamkan. Banyak yang ragu. Ada yang menolak. Namun Koster kembali datang. Lagi dan lagi.

Hingga akhirnya Perda No 4 Tahun 2019 tentang desa adat lahir, Undang-Undang Provinsi Bali Nomor 15 Tahun 2023 disahkan. Tidak ada pesta. Tidak ada sorak. Hanya satu hal, fondasi hukum Bali berdiri lebih kokoh.

Pungutan wisatawan asing menjadi sasaran empuk. Ada yang menakut-nakuti, turis akan pergi
Ada yang menuding Bali arogan, Koster tidak berteriak balik. Ia hanya memastikan satu hal, uang itu kembali ke desa adat, ke budaya, ke lingkungan. Baginya, pariwisata tanpa tanggung jawab lebih berbahaya daripada pariwisata tanpa pujian.

Ketika tanah mulai dikunci lewat larangan nominee lewat Perda yang baru disahkan, suara perlawanan menjadi lebih dingin. Tidak lagi teriak, tapi tekanan. Ketika pantai dilindungi, toko modern dibatasi, alih fungsi lahan dikendalikan banyak yang tersenyum sinis. Berani sampai kapan?

Koster mendengar kalimat itu lebih dari ratusan kali. Ia tahu, di titik inilah seorang pemimpin sering diremehkan. Karena ia memilih melindungi, bukan melayani semua kepentingan.Dalam banyak cerita, pahlawan digambarkan dielu-elukan

Dalam kenyataan, mereka sering berjalan di tengah cibiran
Koster berada di posisi itu.Tidak selalu dipahami. Tidak selalu disukai. Namun ia terus memperjuangkan generasi Bali, menyusun perda, mengunci kebijakan, memperpanjang napas Bali.

Hari ini Bali masih ribut, Namun Bali tidak telanjang Dan mungkin kelak, saat waktu memberi jarak, orang akan berkata, ada seorang tokoh yang memilih berjalan saat yang lain memilih berkompromi. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya menjaga Bali, meski sering diremehkan, meski jarang dipuji. Karena bagi Koster, sejarah tidak ditulis oleh yang paling populer, tetapi oleh yang paling bertahan.

[ Editor : Sarjana ]

Trending Video Short Populer
Lihat Semua →
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru