Buleleng, Balijani.id| Di tengah laju pariwisata modern Bali, tradisi nelayan perlahan tersisih. Aktivitas melaut yang dulu menjadi sumber hidup masyarakat pesisir kini mulai ditinggalkan, tergeser teknologi dan pola ekonomi baru yang lebih instan.
Kondisi ini memantik langkah konkret dari Agus Dharma bersama Trianasari. Keduanya turun langsung menggali pengetahuan dari nelayan sepuh untuk menghidupkan kembali cara-cara tradisional yang mulai dilupakan.
Mereka mempelajari teknik membaca arah angin, memahami arus laut, hingga mengenali tanda-tanda alam sebagai dasar melaut. Pengetahuan itu kemudian dirangkum sebagai upaya pelestarian sekaligus edukasi.
Agus Dharma menjelaskan, tradisi ini tidak sekadar diangkat kembali sebagai nostalgia, tetapi diarahkan menjadi pengalaman nyata yang bisa dirasakan langsung oleh wisatawan.
“Wisatawan tidak hanya melihat, tetapi ikut merasakan menjadi nelayan tradisional. Mereka belajar menjaring ikan, memahami filosofi laut, hingga nilai-nilai yang menyertainya,” jelasnya.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi paket wisata berbasis budaya dan edukasi. Tradisi melaut dikemas secara autentik dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan nilai lokal.
Puncaknya, praktik ini ditampilkan dalam gelar seni di Desa Giri Emas. Teknik mencari ikan diperagakan sebagai pertunjukan yang memadukan seni, edukasi, dan kearifan lokal, lengkap dengan narasi yang menjelaskan makna di balik setiap proses.
Program ini digagas oleh Agus Dharma dari Universitas Udayana bersama Nana Trianasari dari Undiksha, bekerja sama dengan SMKN 1 Kubutambahan melalui paket wisata “Mencar”.
Langkah ini membuka model baru pariwisata Bali yang tidak sekadar menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman hidup masyarakat lokal. Tradisi nelayan yang sempat terpinggirkan kini kembali diangkat sebagai identitas, sekaligus sumber ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
[ Editor : Sarjana ]







