News  

Tangis Peternak di Canggu, Puluhan Babi Mati Mendadak Diterjang ASF, Ketut Lelut Rugi Ratusan Juta Rupiah

Balijani.id, 25 Mei 2026, 03:26 WIB
Tangis Peternak di Canggu, Puluhan Babi Mati Mendadak Diterjang ASF, Ketut Lelut Rugi Ratusan Juta Rupiah

Badung, Canggu, Balijani.id | Duka mendalam menyelimuti peternakan milik Ketut Lelut di kawasan pariwisata Canggu, Kabupaten Badung. Harapan besar untuk menikmati hasil panen setelah berbulan-bulan merawat ternak, mendadak sirna dalam sekejap menjadi mimpi buruk. Puluhan ekor babi miliknya dilaporkan mati satu per satu akibat serangan ganas virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang kembali menghantui para peternak di Bali.

Dengan wajah penuh kesedihan, Ketut Lelut menceritakan bagaimana ternak yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya mendadak terserang penyakit mematikan. Padahal, sebanyak 20 ekor babi berusia enam bulan miliknya sudah siap panen dan tinggal menunggu waktu untuk dipasarkan. Namun naas, dua minggu sebelum masa panen tiba, seluruh babi tersebut mati mendadak secara beruntun.

“Sudah siap panen, tinggal dua minggu lagi saja. Tadinya saya berharap hasil penjualan bisa menutup biaya pakan yang tinggi dan memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi semuanya habis tak tersisa dalam waktu singkat,” ucap Ketut dengan mata berkaca-kaca.

Tidak hanya babi siap panen, ternak di kandang lainnya juga ikut bertumbangan. Sebanyak 20 ekor babi usia empat bulan yang masih dalam masa pembesaran turut terserang virus serupa. Bahkan, 20 ekor anak babi (kucit) berusia dua bulan juga tidak bisa diselamatkan. Total puluhan ekor babi milik Ketut mati misterius, membuat kerugian materiil yang dialaminya diperkirakan menembus angka ratusan juta rupiah.

Suasana kandang yang biasanya ramai kini berubah menjadi sunyi senyap. Bau menyengat disinfektan bercampur kesedihan terasa kental menyelimuti lokasi peternakan. Ketut mengaku sangat terpukul karena usaha yang dirintisnya dengan susah payah menggunakan modal besar kini nyaris hancur total akibat wabah ASF.

Menurut Ketut, selama ini dirinya sudah berupaya maksimal menjaga kebersihan sanitasi kandang dan merawat ternak sebaik mungkin. Namun, karakteristik virus ASF yang dikenal sangat menular dan mematikan membuat babi-babi miliknya tidak mampu bertahan hidup.

“Ini bukan kerugian yang kecil untuk ukuran kami sebagai peternak rakyat. Kami sangat terpukul. Modal habis total, babi mati semua. Sekarang saya bingung harus mulai dari mana lagi untuk menyambung hidup,” katanya lirih.

Di tengah keterpurukan tersebut, Ketut Lelut mengetuk pintu hati pemerintah daerah maupun dinas terkait agar memberikan perhatian serius bagi para peternak babi yang terdampak langsung oleh wabah ASF. Ia berharap adanya skema bantuan nyata agar para peternak kecil bisa kembali bangkit dan melanjutkan roda usaha mereka.

“Saya sangat berharap pemerintah bisa hadir membantu kami. Jangan sampai peternak kecil dibiarkan berjuang sendiri menghadapi kondisi pelik seperti ini,” harapnya.

Sementara itu sebagai langkah darurat, pihak Puskesmas atau Unit Pelaksana Teknis (UPT) Keswan setempat dilaporkan telah turun ke lokasi untuk memberikan bantuan stimulan berupa dua botol besar cairan disinfektan. Bantuan ini ditujukan untuk sterilisasi area kandang guna memutus mata rantai penularan agar tidak meluas ke peternakan warga lainnya.

Meski demikian, bantuan disinfektan tersebut dinilai belum cukup untuk mengobati kerugian besar yang dialami. Ketut berharap ada solusi jangka panjang dari pemerintah, mulai dari pendampingan teknis kedokteran hewan, bantuan modal stimulus, hingga pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak demi mengantisipasi wabah ASF yang terus mengancam keberlangsungan industri peternakan babi di Pulau Dewata.

Kini, Ketut Lelut hanya bisa pasrah menatap kandang-kandang yang kosong. Di balik kematian puluhan babi itu, tersimpan jerit tangis seorang peternak kecil yang mendadak kehilangan sumber penghidupan utama bagi masa depan keluarganya.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru