BULELENG, Balijani.id | Persoalan gulma alang-alang (Imperata cylindrica) di lahan pertanian menjadi pintu masuk Universitas Panji Sakti (UNIPAS) Singaraja untuk memperluas jejaring akademik hingga ke Eropa. Kampus kebanggaan Buleleng ini resmi menggandeng Van Hall Larenstein University, Belanda, untuk mengembangkan riset pengelolaan lahan berkelanjutan berbasis agroforestri terpadu (integrated agroforestry).
Sinergi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kolaborasi strategis yang dirancang untuk empat tahun ke depan ini berfokus pada penelitian dan pengembangan solusi atas masalah pengelolaan lahan, khususnya yang terhambat oleh pertumbuhan alang-alang.
Rektor UNIPAS, Dr. I Nyoman Gede Remaja, S.H., M.H., menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan komitmen kampus dalam memperkuat kualitas riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, fokus di bidang pertanian sangat relevan dengan karakteristik Buleleng dan Indonesia yang memiliki basis agraris kuat.
“Sebagai bangsa agraris, kerja sama riset ini tentu akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia, Bali, dan khususnya Buleleng. Kami berharap penelitian ini dapat berjalan optimal dan menghadirkan solusi nyata di lapangan,” ujar Remaja.
Riset ini dirancang agar tidak eksklusif di kalangan akademisi. Program Studi Agroteknologi UNIPAS akan turun langsung berkolaborasi dengan para petani, koperasi, serta tenaga profesional di bidang pertanian. Skema ini memastikan hasil penelitian tidak hanya berakhir sebagai kajian di atas kertas, melainkan dapat diaplikasikan untuk mewujudkan pengelolaan lahan yang lebih produktif.
Bagi UNIPAS, kolaborasi ini juga menjadi momentum emas untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Para dosen dan mahasiswa memiliki peluang besar untuk menyerap pengetahuan serta pengalaman riset bertaraf internasional bersama perguruan tinggi mitra dari Belanda.
Prosesi penandatanganan MoU turut dihadiri oleh jajaran pimpinan UNIPAS, termasuk Wakil Rektor, Dekan Fakultas Pertanian, serta jajaran dosen. Dari pihak Van Hall Larenstein University, hadir A.G. (Albertien) Kijne dan Dr. E. (Euridice) Leyequien Abarca, yang didampingi oleh perwakilan Wima Foundation, yakni CEO Chairman Win Boesrie dan Maurice Rademaher.
Program riset ini mendapat dukungan penuh dari Wima Foundation dengan pendanaan yang bersumber dari Pemerintah Belanda. Keterlibatan berbagai pihak ini memperkuat ekosistem kerja sama yang secara langsung menghubungkan institusi pendidikan dengan pelaku sektor pertanian.
Ke depannya, UNIPAS menargetkan kerja sama ini tidak berhenti pada penelitian saja. Jejaring internasional ini diharapkan dapat merambah pada integrasi program pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Melalui durasi riset agroforestri terpadu selama empat tahun ini, UNIPAS siap menjembatani inovasi akademik dengan kebutuhan praktis petani di lapangan. Target akhirnya adalah menemukan pendekatan solutif bagi persoalan lahan, sekaligus mewujudkan sistem pertanian yang jauh lebih tangguh dan berkelanjutan.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana














