Advertisement
Kirim Opini Balijani
✍️ Kirim Opini ke Redaksi
Sampaikan pandangan, ulasan, atau kritik membangun Anda.
News  

Nuanu Satukan Chef Dunia, Sutala Disiapkan Jadi Pusat Gastronomi Bali

Balijani.id, 4 Mar 2026, 13:41 WIB

Tabanan, Balijani.id| Bali tidak hanya berbicara tentang pariwisata, tetapi juga tentang arah baru industri kuliner. Di tengah pengakuan global sebagai destinasi terbaik dunia versi TripAdvisor, pelaku industri mulai menyusun langkah agar pertumbuhan sektor ini lebih terarah dan berkelanjutan.

Nuanu Creative City pada 4 Maret 2026 menggelar Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders di kawasan pengembangannya seluas 44 hektare. Forum satu hari ini mempertemukan chef, pemilik restoran, operator hospitality, investor, hingga pemangku kepentingan industri untuk membahas masa depan kuliner Bali.

Acara ini sekaligus menjadi momen pengenalan resmi Sutala Culinary District, distrik kuliner yang akan dibangun di dalam kawasan Nuanu. Sutala diproyeksikan bukan sekadar deretan restoran, melainkan ekosistem gastronomi yang mendorong kolaborasi, inovasi, dan pengembangan jangka panjang.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, dalam pidato utamanya menekankan pentingnya dialog sebelum pembangunan fisik dilakukan.

“Yang paling penting hari ini adalah menghadirkan orang-orang yang tepat dalam satu ruang,” ujar Lev. “Mereka yang benar-benar membangun lanskap kuliner Bali dan Indonesia dapat berbicara terbuka tentang apa yang berjalan baik dan apa yang masih perlu dibenahi. Kami ingin Bali dan Nuanu tumbuh sebagai destinasi kuliner yang diperhitungkan. Karena itu, memulai dengan belajar dan mendengar terasa sebagai langkah yang paling tepat jika kita ingin menemukan yang terbaik dari Indonesia sekaligus menghadirkan yang terbaik dari dunia, maka berdialog bersama para pemimpin hari ini adalah strategi yang relevan.”

Sepanjang forum, pembahasan mengerucut pada sejumlah isu krusial, mulai dari kejelasan regulasi, ketahanan operasional, model investasi jangka panjang, hingga posisi kuliner Indonesia di panggung internasional. Forum ini didukung Bali Tourism & Investment Chamber (BTIC), Bali Restaurant & Café Association (BRCA), dan Bali HoreCa Club (BHC), sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola industri.

Identitas kuliner lokal juga menjadi perhatian. Para pembicara menilai kekuatan Bali terletak pada bahan baku lokal, teknik tradisional, dan budaya makan yang kuat.

Tantangannya adalah berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.
Chef Wayan Kresna Yasa, pemilik HOME by Chef Wayan dan Chef Patron KAUM, menyampaikan pandangannya sebagai pelaku lokal yang juga beroperasi di level internasional.

“Masa depan gastronomi Bali bergantung pada kemampuan kita untuk berinovasi tanpa kehilangan akar budaya kita. Kita harus berinvestasi bukan hanya pada konsep-konsep baru, tetapi juga dalam menjaga pengetahuan, bahan, dan tradisi yang mendefinisikan kita,” ujarnya.

“Sebagai chef Bali, saya berterima kasih kepada Nuanu karena telah menciptakan platform di mana para pelaku di lapangan dapat berkumpul dan turut membentuk realitas industri kita.”

Dukungan juga datang dari mitra industri. CEO PT Putra Surya Internusa, Faye Louise, menyatakan, “Nuanu Creative City menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Bali melampaui sekadar hiburan. Dengan memprioritaskan dialog sebelum infrastruktur, serta membangun ekosistem sebelum ekspansi, Nuanu turut membentuk lanskap kuliner yang modern, kompetitif, dan relevan secara global. Kami bangga dapat mendukung visi ini melalui solusi hospitality yang menyeluruh.”

Sementara itu, Director of Operations and Commercial PGN-Gagas Energi, Maisalina,

menambahkan, “Forum ini mencerminkan cara berpikir jangka panjang. Nuanu Creative City tidak hanya berinvestasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat fondasi industri kuliner Bali, memastikan pertumbuhannya berlangsung secara terstruktur, berkelanjutan, dan tetap berakar secara lokal.”

Melalui forum ini dan pengenalan Sutala, Nuanu menegaskan bahwa pertumbuhan industri kuliner Bali membutuhkan fondasi yang kuat, bukan sekadar tren sesaat. Dialog, kolaborasi, dan standar profesional menjadi kunci agar Bali tidak hanya ramai secara bisnis, tetapi juga dihormati sebagai pusat gastronomi yang matang dan berintegritas.

[ Editor : Sarjana ]

Advertisement
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru