DENPASAR, Balijani.id | Gubernur Bali Wayan Koster memilih tidak sekadar duduk nyaman di balik meja saat krisis bahan bakar minyak (BBM) melanda. Ia turun langsung menyambangi Depo Sanggaran, menemui jajaran pimpinan Pertamina, memantau alur distribusi BBM, hingga mengecek kondisi di SPBU guna mendengar langsung keluhan warga serta petugas lapangan yang kelelahan.
Gubernur Koster secara tegas mendorong skema penyaluran BBM 24 jam, penambahan armada mobil tangki, hingga penebalan personel guna mempercepat pelayanan. Bahkan, ia turut mengawasi langsung uji coba distribusi BBM menggunakan jeriken sebagai langkah darurat mengurai antrean panjang.
Inilah bentuk kepemimpinan nyata: ketika krisis terjadi, ia berdiri paling depan; ketika masyarakat meluapkan kekecewaan, ia hadir menghadapi.
-
Ironi di Lapangan: Namun, terjadi situasi ironis. Saat Koster sempat mendapat respons keras dari oknum petugas SPBU yang kelelahan akibat operasional 24 jam, sebagian pihak justru memanfaatkan momen tersebut untuk membangun narasi yang menyudutkan sang gubernur. Sangat disayangkan jika pihak yang bekerja keras di lapangan justru dijadikan sasaran tembak, sementara yang sibuk memanfaatkan situasi merasa paling berjasa.
Keberanian Hadir di Tengah Krisis
Kritik terhadap Koster tentu sah dan diperbolehkan. Namun, publik jangan sampai menutup mata atas keberanian dan ikhtiarnya untuk hadir langsung di tengah krisis. Bali membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar pencitraan, tetapi berani hadir pada masa-masa sulit.
Perjuangan ini tidak bisa dilakukan Koster seorang diri. Pertamina harus bergerak cepat menuntaskan masalah distribusi, dan seluruh jajaran pemerintah daerah wajib bersinergi.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian bahwa BBM sampai ke tangki kendaraan mereka.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana














