Menjaga Harmoni Lewat Ngayah: Wujud Nyata Menyama Braya dalam Piodalan di Desa Adat Tista

Balijani.id, 23 Okt 2026, 00:39 WIB
Warga krama pengempon pura saat bergotong royong dan berpartisipasi dalam tradisi ngayah menyambut upacara piodalan di Desa Adat Tista, Baktiseraga.

BULELENG, Balijani.id | Pura tidak hanya menjadi tempat untuk memanjatkan doa dan pemujaan (stuti) kepada Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga benteng pertahanan sosial tempat nilai-nilai persatuan dan kegotongroyongan dirawat. Hal ini tercermin nyata dalam setiap pelaksanaan upacara piodalan (hari jadi pura) di Desa Adat Tista, Baktiseraga.

Di balik kemegahan dan kekhusyukan ritus keagamaan, terdapat esensi tradisi Ngayah—sebuah konsep tulus ikhlas bekerja demi kepentingan bersama tanpa mengharapkan imbalan materi. Tradisi ini menjadi napas pengerak yang menyatukan seluruh krama (warga pengempon pura) dalam balutan keharmonisan.

Gotong Royong dalam Pembagian Tugas

Persiapan piodalan diawali dengan rapat adat (paruman) untuk membagi tugas (ayah-ayahan). Sejak tahap awal hingga hari puncak, alur kerja terbagi secara terstruktur dan harmonis:

  • Krama Istri (Wanita): Dengan ketelitian dan sentuhan seni, para wanita terampil merangkai janur (mejejaitan), membuat berbagai bentuk banten (sesajen), serta menyiapkan konsumsi bagi seluruh warga.

  • Krama Lanang (Pria): Mengandalkan kekuatan fisik dan kebersamaan, para pria bahu-membahu mendirikan tenda (wewangunan), memasang hiasan penjor yang menjulang indah, hingga mengolah hidangan khas Bali seperti lawar.

Merawat Tatanan Sosial dan Warisan Leluhur

Lebih dari sekadar persiapan upacara, rangkaian proses piodalan melahirkan nilai-nilai luhur yang menguatkan tatanan kehidupan bermasyarakat:

  1. Menghilangkan Sekat Sosial: Di pelataran pura, kedudukan sosial seolah melebur. Pejabat, rakyat biasa, kaya, maupun miskin duduk berdampingan di atas tikar yang sama, menyingsingkan lengan baju untuk satu tujuan yang mulia.

  2. Mempererat Solidaritas: Interaksi intensif selama berhari-hari—mulai dari tahap persiapan (ngurit) hingga puncak acara—menjadi perekat hubungan antarwarga.

  3. Pelestarian Budaya Antargenerasi: Ngayah menjadi ruang belajar hidup. Generasi tua secara alami menularkan pengetahuan mejejaitan, seni keagamaan, dan pembuatan sarana upakara kepada generasi muda.

Melalui tradisi piodalan ini, masyarakat Hindu di Desa Adat Tista, Baktiseraga, tidak hanya mengagungkan Pencipta, tetapi juga memperkokoh tali persaudaraan (menyama braya). Sebuah bukti nyata bahwa keharmonisan sosial dapat terus terjaga kokoh di tengah arus modernisasi.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru