Kentalnya Tradisi Bali, Krama Desa Adat Tista Kompak ‘Ngayah Mebat’ Jelang Piodalan Tilem Kapat

Balijani.id, 10 Okt 2026, 09:29 WIB
Warga bersama krama Desa Adat Tista, Desa Baktiseraga, Buleleng, kompak melaksanakan tradisi ngayah mebat dalam rangka menyambut karya piodalan di Pura Pucak Desa Adat Tista, Minggu (11/10/2026).

BULELENG, Balijani.id | Menyongsong puncak karya piodalan yang jatuh pada sucinya hari Tilem Kapat, Redita (11/10/2026), krama Desa Adat Tista, Desa Baktiseraga, menunjukkan antusiasme tinggi melalui semangat gotong royong yang kental. Sejak pagi, warga tampak tumpah ruah di areal Pura Pucak Desa Adat Tista untuk melaksanakan tradisi ngayah mebat.

Ngayah mebat—sebuah tradisi khas masyarakat Bali dalam mengolah bahan pangan secara bersama-sama untuk keperluan upacara—menjadi simbol kuat kebersamaan, sagilik-saguluk selunglung sebayuk. Tua dan muda, laki-laki maupun perempuan, berbaur dalam balutan semangat yadnya (ketulusan berkorban). Para pria tampak cekatan memotong daging dan menyiapkan bumbu rempah khas Bali (base genep), sementara kaum wanita turut membantu dalam berbagai persiapan penunjang upacara.

Makna Kebersamaan dan Pelestarian Warisan Leluhur

Bendesa Adat Tista menyampaikan bahwa tradisi ngayah ini bukan sekadar rutinitas jelang piodalan, melainkan momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga (menyame braya). Dengan bergotong royong mebat, beban pekerjaan yang berat terasa lebih ringan, sekaligus melestarikan warisan leluhur agar tetap ajeg di tengah arus modernisasi.

  • Harapan dan Doa Bersama: Melalui sinergi dan ketulusan krama dalam ngayah mebat ini, rangkaian upacara piodalan di Pura Pucak Desa Adat Tista diharapkan dapat berjalan dengan lancar, labda purnajaya, serta memohon kerahayuan dan kerahayatan jagat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru