News  

Mengapa Pasar Tradisional Makassar Sulit Menjadi Pasar Berkonsep Modern?

Balijani.id, 4 Okt 2023, 06:13 WIB

Makassar, Balijani.id ~ Di kota Makassar, Sulawesi Selatan terdapat 11 titik Pasar tradisional, yang sebagian besar telah berumur panjang, bahkan sudah ada sejak zaman Belanda.

Sebagian Pasar tradisional itu memiliki nilai sejarah yang mengiringi perkembangan kota Makassar dari masa ke masa, seperti Pasar Kalimbu, Pasar Cidu’, Pasar Terong, Pasar Pabbaeng-Baeng, Pasar Tamamaung, Pasar Tello, Pasar Bulu-Bulu, Pasar Daya, Pasar Tamalate, Pasar Toddopuli, Pasar Tradisional Antang, dan Pasar Maricayya.

Meski semua telah berumur panjang dan kini telah berada di sebuah kota yang semakin maju dan modern sekelas Makassar, namun kondisi belasan pasar tradisional itu tetap kumuh, padat, becek dan sulit berubah menjadi pasar modern.

Koordinator Pengelola Pasar Daya, kecamatan Biringkanaya, Makassar, H.Muslimin Cole yang ditemui _Balijani.id_ di Pusat Niaga Daya, Rabu (4/10/2023) mengatakan, umumnya gaya hidup warga kota Makassar belum mampu meninggalkan kebiasaan berbelanja di pasar tradisional.

“Keberadaan pasar tradisional di Makassar ini masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Kita sudah terbiasa berbelanja dari atas kendaraan seperti sepeda motor, berbelanja sambil lewat. Masyarakat kita belum familiar dengan sistem belanja ala pasar modern.”terang Muslimin.

Meskipun saat ini di sejumlah titik jantung kota Makassar mulai banyak pasar modern, namun animo masyarakat kota Makassar berbelanja di pasar modern itu dinilai masih kurang, justru orang-orang dari luar Makassar yang banyak memenuhi pasar-pasar modern itu. Mereka menjadikan pasar modern sebagai tempat rekreasi.

“Jadi memang betul di Makassar saat ini sudah ada sejumlah pasar modern, tetapi lebih berfungsi sebagai tempat refreshing bagi warga kota dan orang-orang dari luar kota Makassar. Sedangkan untuk berbelanja keperluan sehari-hari, masyarakat Makassar masih lebih memilih untuk berbelanja di pasar tradisional.” lanjut Muslimin.

Masyarakat kota Makassar merasa lebih leluasa melakukan transaksi jual beli di pasar tradisional seperti, tawar menawar, bahan kebutuhannya juga lebih lengkap dibandingkan pasar modern, produk komoditas berupa hasil laut dan sayur mayur lebih segar, harganya juga lebih murah.

“Kelebihan lain dari pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh pasar nodern, yakni pasar tradisional mampu mendukung usaha kecil. Meskipun keuntungan yang diperoleh tipis, tetapi dagangannya laris manis oleh pelanggan, maka itu sudah dirasa cukup oleh para pedagang maupun pembeli. Ada semangat kekeluargaan di pasar tradisional yang tidak akan bisa ditemukan di pasar modern.” ujarnya.

Meskipun pemerintah kota Makassar telah berkali-kali mengupayakan pasar tradisional untuk direvitalisasi menjadi pasar semi modern, namun upaya itu selalu berakhir sia-sia.

Upaya menciptakan pasar semi modern itu bertujuan untuk menghilangkan stigma buruk pasar tradisional yang identik dengan kesan kumuh dan kotor .

Namun lagi-lagi, kembali kepada style dan gaya hidup masyarakat kota Makassar yang memang lebih menginginkan pasar tetap dalam konsep yang tradisional.

“Ada semangat kekeluargaan yang kental yang ingin terus dipertahankan, itu inti permasalahannya.” pungkas Muslimin.

[BJ/Daeng Khairil]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru