News  

Si ‘Kutu Busuk’ Mbay Telah Didandani Pemkab Nagekeo

Balijani.id, 21 Nov 2022, 05:20 WIB

Mbay ( NTT ), Balijani.id – Bau Busuk yang menyengat terasa menggerogoti penciuman saya. Area pasar tampak becek oleh lumpur setinggi mata kaki. Sampah tampak bertebaran dimana-mana. Romol dan kumuh. Itulah kesan pertama yang ada dibenak saya ketika tiba di Pasar Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal tahun 2020 lalu. Pasar yang sebelumnya saya juluki sebagai Si ‘Kutu Busuk’ Mbay karena aroma bau busuk yang menyengat tercium di pasar yang terletak di tengah Kota Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo. Saat itu saya berusaha menahan nafas agar tidak kembung, bahkan nyaris muntah.

Namun kesan itu lenyap seketika, saat saya kembali menginjakkan kaki di Pasar Danga pada Kamis (17/11/20) malam. Pasar yang dulu saya sebut sebagai ‘Si Kutu Busuk’ Mbay itu telah bersolek. Pasar Danga telah pugar alias didandani oleh Pemkab Nagekeo. Pasar ini telah berubah menjadi bersih dan tertata rapi. Jauh dari kesan romol dan kumuh.

Keadaan saat ini jauh berbeda dengan keadaan ketika saya pertama kali tiba di area itu pada Januari 2020 lalu. Saat itu, bau busuk yang berasal dari drainase yang berada di sekeliling pasar dan bau amis dari los pasar ikan. Air drainase tampak menghitam dan membuat saya hampir muntah ketika itu. Juga bau dari lumpur hitam di dalam area pasar.

Hampir tak ada jalan masuk ke tengah pasar ketika saya membeli sekantung buah Mangga Harum Manis yang sudah tak segar lagi. Karena tak puas, saya coba mengamati sekitar lapak dari tepi jalan lapen yang sudah rusak. Jalan sempit di tengah pasar itu tampak digenangi air di beberapa titik ketika itu.

Saya berusaha mencari jalan untuk masuk ke tengah pasar, namun pandangan saya hanya mendapatkan lapak-lapak reot dan kumuh ditepi jalan di sebelah utara Pasar Danga itu. Lapak-lapak ini menghalangi akses masuk ke dalam pasar. Bahkan pandangan mata saya pun tak dapat menembus keadaan dan situasi di tengah area pasar. Setelah berupaya mencari jalan masuk, saya melihat ada gang sempit di antara lapak-lapak reot itu.

Di gang itu tampak genangan lumpur hitam dan becek. Beberapa potongan papan bekas dan batu tampak dijadikan titian pijakan kaki orang yang melintas di gang itu. Melihat kondisi itu, saya mengurungkan niat saya untuk masuk ke dalam area pasar itu karena takut tergelincir di dalam lumpur hitam dan berbau itu.

Saya kembali menelusuri jalan lapen disisi utara itu. Sekitar 30 meter kemudian, saya melihat ada seorang Mama Tua yang sedang menjual Mangga Harum Manis yang masih segar. Keinginan saya untuk membeli Mangga Harum Manis yang masih segar pun terpenuhi. Mangga itu tampak ditumpuk di atas karung plastik putih yang sudah kumal.

Saya pun mencoba mendekati lapak itu dengan menyeberangi drainase yang berbau itu dengan bantuan sebatang balok yang sengaja dipasang para penjual untuk mempermudah akses para pembeli ke lapak mereka. Setelah memilih-milih sebentar, saya pun membeli lagi 2 kantong Mangga sekaligus. Kemudian saya menenteng dua kantor plastik merah yang cukup berat itu ke minibus yang kami gunakan. Lalu saya dan seorang teman saya pun meluncur meninggalkan Pasar Danga.

Situasi ketika itu sengaja saya ceritakan kembali, karena situasi itu kembali berputar dalam ingatan saya ketika saya kembali tiba di Pasar Danga, Kamis (17/11/22). Saya sempat terperangah ketika melihat Si ‘Kutu Busuk’ Danga yang telah didandani oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo). Si ‘Kutu Busuk’ itu telah bersolek menjadi pasar yang bersih dan tertata rapi.

Tak ada lagi bau busuk yang menyengat hidung. Tak ada lagi air drainase berwarna hitam pekat yang tergenang dan nyaris memenuhi drainase. Tak tampak lagi lapak-lapak reot yang dibuat dari kayu bekas, bambu, karung plastik, seng karat dan kardus-kardus. Lumpur hitam di area pasar itu telah lenyap.

Walaupun telah malam, saya tetap masuk ke area pasar karena saya bisa melihat dengan jelas di dalam area pasar itu tak ada lagi lumpur dan genangan air. Lampu-lampu listrik dari lapak dan los pasar menyala terang benderang menyinari area pasar yang tampak lengang dan sepi malam itu.

Pada Sabtu (20/11/22) kemarin siang, Tim Wartawan kembali ke Pasar Danga untuk melihat aktivitas jual-beli di pasar yang terletak di tengah Kota Mbay tersebut. Ketika tiba di lokasi pasar sekitar Pukul 12.00 Wita, aktivitas pasar sudah hampir selesai. Para pengunjung/pembeli sudah berkurang. Namun masih tampak ratusan orang pengunjung/pembeli dan pedagang.

Di pelataran depan pasar (disisi barat terminal) tampak jejeran pedagang ayam pedaging dengan lapak-lapaknya. Di bagian depan pasar, tampak berjejer Kios-Kios permanen yang dibangun oleh Pemkab Nagekeo. Puluhan orang tampak duduk di terminal yang tepat berada di depan Pasar Danga. Puluhan kendaraan tampak masuk-keluar terminal tersebut.

Sementara dipelataran tengah pasar, masih tampak keramaian pasar oleh para pedagang yang membuka lapak sementara di tengah pelataran pasar bagian barat. Mereka beratapkan terpal berwarna-warni yang ditonggak tiang bambu atau besi. Sementara alas yang digunakan beraneka macam. Ada yang menggunakan terpal, karung plastik dan kardus. Di lokasi ini tampak ratusan mobil Pick Up yang sibuk masuk-keluar mengangkut barang dagangan.

Pemandangan yang hampir sama juga terlihat di bagian tengah sisi timur pasar. Di lokasi ini tampak para pedagang dari berbagai desa sedang menjajakan berbagai macam sayur-mayur dan buah-buahan lokal. Tampak pula buah-buahan yang didatangkan dari luar Kabupaten Nagekeo.

Di atas alas tersebut, para pedagang menggelar aneka macam barang dagangannya. Ada aneka macam Sembako, makanan ringan, minuman, pakaian, topi, asesoris pakaian, dan berbagai macam kebutuhan lainnya. Sementara itu di los pasar bagian utara, tampak para pedagang menggelar kain tenun dan berbagai macam asesoris pakaian tradisional.

Hari Sabtu merupakan Hari Pasar Danga sehingga dikunjungi ribuan warga Mbay dan dari berbagai desa di Nagekeo. Namun tak area pasar masih tampak bersih. Hanya ada sedikit sampah yang bertebaran. Seorang petugas sampah Kabupaten Nagekeo yang tak mau ditulis namanya, ditemui wartawan di lokasi Pasar Danga.

Menurutnya, saat ini kebersihan pasar masih terjaga walaupun pada saat pasar di Hari Sabtu (pasar Mingguan, red). Namun ia kuatir di tahun depan akan kembali kotor karena sebagian besar dari 40 orang petugas kebersihan Pemkab Nagekeo akan diberhentikan karena tidak memenuhi syarat admistrasi, khususnya kualifikasi pendidikan.

Saya kemudian mencoba menelusuri setiap sudut pasar. Hanya terlihat sedikit sampah di beberapa titik. Ada juga 2 titik berdiameter sekitar 1 m2 yang tampak berlumpur dan becek karena endapan lumpur yang dibawa air hujan. Titik pertama berada di depan pasar, tak jauh dari terminal. Sedangkan titik kedua berada di salah satu sudut gedung baru di sisi timur pasar.

Komarudin, seorang pedagang beras di Pasar Danga yang sempat ditemui wartawan menyatakan kegembiraannya dengan keadaan pasar saat ini yang lebih bersih dan teratur.

“Dulu sekitar tahun 2019 ke bawah, kondisi pasar ini becek, bau, jorok dan kumuh. Dari pinggir jalan ini, Kita tidak bisa lihat ke tengah pasar karena terhalang oleh lapak-lapak darurat para pedang. Tapi pak bisa liat kondisi sekarang sudah bersih, tidak becek dan terang,” ujarnya sambil melayani pembeli.

Ia menjelaskan, awalnya Pak Bupati Nagekeo dan aparatnya menimbun lokasi di terminal yang becek dengan sirtu kali.

“Tapi kemudian diminta oleh para pegadang agar bisa menimbun area di tengah pasar yang becek, berlumpur dan bau busuk. Makanya ditimbun seluruh area pasar ini dengan sirtu kali,” katanya.

Untuk penataan itu, para pedagang sempat dipindahkan ke beberapa lokasi di sekitar Pasar Danga.

“Saya sempat dipindahkan di depan Polres. Tapi setelah ditata dan dibangun jalan hotmix yang lebar di tengah pasar ini, saya pindah kembali ke sini,” beber pedagang yang biasa disapa Komar.

Menurutnya, sebelum Pasar Danga ditata, ada los pasar yang sudah rusak dan tidak layak yang dibongkar.

“Kalau malam gelap sekali. Jadi tempat tidak baik. Lantainya sudah hancur dan becek. Atap sengnya sudah berkarat. Los yang sudah dibangun dari tahun 80-an itu lalu dibongkar dan dibuat pelataran di tengah pasar,” jelas Komar.

Setelah menata area tengah pasar, lanjut Komar, Pemkab Nagekeo membangun dua los baru.

“Los itu ada wc/kamar mandinya,” ujar Komar sambil menunjuk ke arah 2 unit los pasar yang berada di depan lapak berasnya. Tepat di sisi jalan tengah pasar tersebut.

Setiap hari Sabtu, kata Komar, pelataran itu dijadikan tempat membangun berjualan.

“Para pedagang boleh menjual dagangannya dengan membangun tenda darurat di pelataran tengah. Tapi hanya diijinkan pada hari Sabtu saja,” beber Komar.

Informasi yang dihimpun Tim Wartawan, penataan pasar berupa penimbunan sekitar 1.00 truck sirtu kali tersebut merupakan sumbangan dari para donatur yang dikoordinasi oleh Bupati Don Bosco Do beberapa bulan setelah dilantik. Pembangunan 2 unit los pasar (sebagai pengganti los yang dibongkar, red) dengan nilai sekitar Rp 300 juta di lokasi tersebut, juga merupakan sumbangan para pengusaha dan donatur.[ BJ/Oskar/NTT ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru