BANDUNG, Balijani.id | Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan komitmennya dalam menempatkan Desa Adat sebagai ujung tombak transformasi digital sekaligus benteng pelestarian budaya dan kearifan lokal di Pulau Dewata. Langkah strategis ini diambil guna memastikan modernisasi teknologi tidak mereduksi kekayaan tradisi, melainkan memperkuat pertahanan kebudayaan lokal dari hulu hingga ke hilir.
Komitmen besar tersebut dipaparkan secara gamblang oleh Gubernur Koster saat hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker) dalam ajang bergengsi 5th International Conference on Digital Humanities 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Sabtu (18/7/2026).
Forum ilmiah tingkat dunia yang mengusung tema “AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism” ini dibuka langsung oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., serta turut menghadirkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman.
Penguatan Infrastruktur Digital Desa Adat dan Yowana
Dalam pemaparannya, Gubernur Koster menjabarkan bahwa Bali saat ini didukung oleh struktur adat yang sangat kokoh, terdiri dari 57 kecamatan, 636 desa, 80 kelurahan, dan 1.500 desa adat. Guna mengintegrasikan seluruh wilayah tersebut ke dalam ekosistem modern, Pemerintah Provinsi Bali tengah masif mengembangkan website di seluruh tingkat desa adat serta meningkatkan keterampilan digital bagi para Perangkat Desa dan Prajuru Desa Adat.
Tidak hanya menyasar birokrasi, para Yowana (generasi muda) Desa Adat juga difasilitasi untuk membentuk komunitas digital yang aktif dan terhubung dengan marketplace global. Selain itu, infrastruktur tradisional seperti Wantilan dan Balai Banjar kini diberdayakan secara fungsional menjadi Balinese Culture Meeting Point yang berfungsi sebagai ruang kerja bersama (coworking space) bagi komunitas lokal.
“Mungkin kalau tidak ada desa adat ini, kebudayaan di Bali sudah terancam punah atau akan terus mengalami penurunan,” ujar Koster di hadapan peserta konferensi.
Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di Era Modern
Alumni ITB ini menegaskan bahwa transformasi digital di Bali berpijak pada visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Visi ini mengandung makna untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia secara niskala-sakala, sejalan dengan Prinsip Trisakti Bung Karno.
“Kemajuan teknologi dan transformasi digital tidak boleh menerkam kearifan lokal, tetapi bagaimana mampu menguatkan identitas budaya dan kearifan lokal itu sendiri,” tegas Gubernur Bali dua periode tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menyambut baik langkah tersebut. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi menciptakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan di tengah kompleksitas sosial.
Melalui kolaborasi nyata ini, Bali berhasil membuktikan diri tidak sekadar sebagai magnet pariwisata dunia, melainkan sebagai laboratorium hidup di mana modernitas teknologi dan keabadian tradisi mampu berjalan beriringan secara harmonis.
[ Editor : Sarjana ]
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana













