Dr. Simon Kasse
Dosen IAKN Kupang
Nusa Tenggara Timur, Balijani.id ~ Topik ini ditulis dalam rangka mengingat dan merayakan hari Ayah Nasional tanggal 12 November 2022 yang tak lama ini, keluarga
sebagai suatu kelompok manusia yang terdiri atas seorang perempuan dan pria serta anak-anak yang saling bergantung secara biologis, karena memiliki ikatan dalam institusi perkawinan serta memiliki hubungan darah. Keluarga juga dipandang sebagai satu Ikatan formal antara seorang pria dan perempuan untuk membangun wadah resmi yang direstui oleh aturan (pemerintah, budaya dan agama) yang berlaku sepanjang segala zaman.
Ikatan dan relasi antara pria dan perempuan tersebut kemudian mereka mewujudkan cinta dengan dikaruniai anak-anak sehingga orang tua harus membimbing, mendidik, mereka dengan penuh kasih sayang agar pelestarian keluarga yang harmonis terus dipertahankan. Dalam keluarga dapat menjalankan fungsi ketergantungan satu sama lain, misalnya tugas pembimbingan untuk menjalankan norma, nilai-nilai sebagai peninggalan dari masa lalu dan kini dalam keluarga, sehingga keutuhan keluarga selalu bertahan ditengah perubahan yang mengglobal.
Kita (ayah, ibu, anak) tidak bisa pungkiri bahwa wajah zaman kita sekarang ini ditandai dengan perkembangan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Lembaga hidup perkawinan yang merupakan persatuan antara seorang pria dan seorang wanita pun tidak luput dari terpaan perubahan itu. Kalau dahulu wajah hidup berkeluarga ditandai dengan keharmonisan yang ditopang oleh kuatnya tradisi dan adat yang ketat, maka sekarang ini (diberbagai media) wajah hidup berkeluarga ditandai dengan berbagai arus perubahan yang cenderung mengusik dan menggoda keutuhan hidup berkeluarga.
Kita (suami, istri, & anak) sebagai pelaku hidup berkeluarga di zaman modern ini dituntut untuk bersikap sebagai seorang pahlawan (bukan pahlawan nasional, tapi pahlawan keluarga) yang mampu mengatasi semua godaan yang dapat meruntuhkan kesatuan hidup perkawinan dan keluarga.
Penulis juga sebagai pelakon dalam keluarga diera modern juga telah mengamati berbagai realitas dalam kehidupan keluarga yang fenomenal. Penulis juga mendapatkan informasi dalam diskusi bersama teman-teman sejawat di lingkungan kampus, maka ada sejumlah realitas yang mesti perlu disimak dan dikritisi untuk diadaptasikan yaitu:
1). Keluarga diera modern memiliki kesibukan kerja yang sangat meningkat.
Dahulu seorang istri lebih banyak mengarahkan perhatian pada pekerjaan rumah tangga, sebagai seorang ibu yang mengasuh anak dan memperhatikan kesejahteraan dalam urusan keluarga, tetapi saat sekarang dengan adanya desakan gerakan ekonomi, emansipasi wanita, dan peluang untuk bekerja, para ibu rumah tangga pun terdorong untuk membantu sang suami dengan bekerja sebagai seorang wanita karier karena tuntutan hidup, dengan maksud menambah pendapatan ekonomi rumah tangga tetapi dampak negatif adalah komunikasi antara orang tua dan anak mengalami kemacetan. Anak-anak kurang menjadikan orang tua sebagai sumber belajar, sumber teladan karena mereka lebih banyak belajar dari sumber-sumber lain yang lebih modern, akibatnya anak-anak merasa jenuh dan perasaan menolak ketika mendengarkan bimbingan, nasehat dari orang tua.
2) Dapur rumah tangga berpindah dari rumah tangga ke rumah makan/restoran.
Ditempat inilah keluarga berkumpul untuk menikmati makanan yang lezat yang bukan hasil masakan sendiri. Yang penting makanan cepat dihidangkan dan siap saji. Inilah zaman yang serba instan, serba cepat, serba efisien, serba efektif, dan serba komplet. Keluarga yang di tinggal kota perubahan ini tak dibendung karena tidak ada waktu yang cukup untuk mengelolah konsumsi agar makan bersama dalam rumah tangga. Secara online dengan mudah kita mendapatkan makanan untuk makan ditempat kerja melalui jasa online grap, maxim.
Dahulu rumah sebagai tempat tinggal tetap sekarang rumah bagaikan hotel yang disinggahi pada malam hari oleh penghuni untuk sejenak beristirahat, lalu di pagi hari melanjutkan pekerjaan.
3). Keluarga elektronik.
Diera ini, kesibukan orang tua yang semakin tinggi, sehingga kurang bersama, atau ada bersama dengan anak tetapi kurang menyatu dengan anak. Anak mulai mencari peran orang tua pengganti melalui berbagai jenis fasilitas teknologi komunikasi yang disediakan oleh orang tua. Anak-anak akhirnya menemukan secara spontan dan otomatis profil orang tua ideal yaitu orang tua elektronik (HP). Semua hal dapat ditemukan melalui facebook, tiktok, film, mister google dan lainnya. Walaupun Kebiasaan ini sangat menolong orang tua agar fokus pada pekerjaan agar mencapai target. Disisi lain, terlihat anak tampak pandai, tetapi justru mengalami kemundurun pada aspek kecerdasan emosional dan sosial. Anak menjadi pribadi yang tidak komunikatif, menyendiri, cuek dan kurang peka, lemah dalam membangun rasa bela rasa. Kenyataan ini bukan tidak mungkin akan terus berlangsung seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin revolusioner, sehingga para orang tua biologis akan dikalahkan oleh orang tua elektronik. paradoksnya adalah anak datang melalui kandungan seorang ibu biologis, yang mempunyai daging, jiwa, dan roh, tetapi hanya karena tuntuntan hidup dan perkembangan teknologi akhirnya anak-anak dibina, dituntun, dan dididik, oleh ayah-ibu elektronik yang tidak punya daging, jiwa dan roh.
Dengan uraian paradoks tersebut, rahasia agar keluarga tetap menjadi satu adalah justru terletak pada kekuatan sebuah cinta. Dalam berbagai acara pemberkatan pernikahan dalam gereja dan juga resepsi selalu menyinggung tentang cinta. Kekuatan cinta yang sama itulah yang dahulu membuka mata hati untuk hidup bersama dalam rumah tangga dalam waktu yang cukup lama untuk saling menata hidup.
Perkawinan sebagai panggilan Ilahi itu tampak melalui inisiatif Allah yang menciptakan manusia karena cinta, juga memanggil manusia untuk saling mencinta. Hal ini pertama-tama tampak dalam kisah penciptaan manusia. disebutkan dalam Kitab Kejadian bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia itu menurut gambaran dan rupa-Nya. Karena itu jika Allah adalah cinta, maka tentunya cinta pria dan wanita serta anak-anak pun merupakan perwujudan dari hakekat kodrati manusia sebagai gambaran dan rupa Allah.
Diera modern, keluarga mesti tetap mempertahan persekutuan sebagai umat di dalam Yesus Kristus. Kita mesti bersekutu dalam saling melayani dan membantu, bertolong–tolongan satu dengan yang lainnya supaya dunia tahu bahwa kita adalah murid–murid Yesus. Persekutuan yang dimaksud adalah hidup bersama dalam rumah (bait keluarga). Sehingga sebuah rumah, apa pun keadaannya tetap mempunyai daya magnetis untuk setiap anggota keluarga, sebab disana kita dilahirkan, dibentuk, dibimbing, hingga menjadi dewasa. Rindu kembali kerumah juga mengandung dimensi spiritual, sebab ada relasi cinta, kebaikan, kehangatan, dan kasih sayang. Kasih sayang dalam bentuk saling melayani baik diantara anggota keluarga. Jadikanlah meja makan dalam rumah tangga sebagai tempat untuk berkomunitas secara intens dalam keluarga. Meningkatnya interaksi sosial dalam kehidupan keluarga menolong anak-anak untuk bertumbuh secara spiritual, emosional, dan berbelarasa (compassion) terhadap orang tua dan lingkungan.
Ini mestinya menjadi misi dari setiap keluarga Kristen agar mampu berfungsi sebagai garam dan terang ditengah perubahan yang sangat menggoda.
Selamat Berjuang
[ BJ/Jitro / NTT ]








