Urai Kemacetan Jalur Darat, Pemprov Bali Rancang Pembangunan Empat Pelabuhan Logistik Strategis

Balijani.id, 2 Okt 2026, 14:17 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan rencana pembangunan empat pelabuhan logistik strategis di hadapan Tim Banggar DPR RI di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (2/10/2026).

DENPASAR, Balijani.id | Pemerintah Provinsi Bali merancang pembangunan empat pelabuhan laut strategis di kawasan utara dan timur Bali guna mengalihkan arus transportasi logistik barang agar tidak membebani simpul jalan di Bali Selatan. Rencana tersebut mendapat perhatian Badan Anggaran (Banggar) DPR RI yang juga menyoroti kinerja penerimaan perpajakan di Pulau Dewata.

Rencana besar penataan transportasi laut tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster, saat menerima Kunjungan Kerja Banggar DPR RI di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (2/10/2026).

Empat Pelabuhan Strategis:

Empat pelabuhan yang dirancang bersama Kementerian Perhubungan tersebut meliputi:

“Fungsi pelabuhan ini kami rancang sebagai sarana pengangkut logistik langsung dari Ketapang, Jawa Timur, menyebar ke utara dan timur Bali. Dengan demikian truk logistik tidak lagi menumpuk menyeberang lewat Gilimanuk yang kerap memicu macet total,” ujar Koster.

Koster menambahkan, pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang kini berjalan melalui PT ASDP Indonesia Ferry dan Pelabuhan Gunaksa via skema investasi. Namun, dukungan kucuran APBN sangat dibutuhkan untuk pembangunan Pelabuhan Sangsit dan Pelabuhan Amed.

Sementara itu, Wakil Ketua Banggar DPR RI, H. Syarief Abdullah Alkadrie, memaparkan bahwa diversifikasi ekonomi di luar sektor pariwisata serta penguatan infrastruktur konektivitas sangat vital bagi Bali. Pada triwulan II-2026, ekonomi Bali tumbuh kuat sebesar 5,78 persen (yoy), berada di atas rata-rata nasional (5,29 persen). Kendati demikian, sektor akomodasi serta makanan dan minuman masih mendominasi PDRB hingga 21,91 persen.

Syarief juga memberikan apresiasi atas kinerja penerimaan negara di Bali yang dicatat oleh Kanwil DJP dan DJBC Bali hingga September 2026.

“Penerimaan pajak di Bali hingga September 2026 telah mencapai Rp8,46 triliun atau tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini capaian positif, namun masih ada ruang memperkuat basis penerimaan dari sektor pariwisata, akomodasi, ekonomi kreatif, dan ekonomi digital. Bea Cukai juga harus memfasilitasi ekspor produk UMKM Bali sekaligus tegas menindak barang ilegal,” ungkapnya.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru