News  

Ubah Sampah Jadi Identitas Kota, Dishub Buleleng Pasang Papan Nama Jalan Plastik Daur Ulang

Balijani.id, 12 Feb 2026, 12:30 WIB

Buleleng, Balijani.id| Upaya mempercantik wajah Kota Singaraja kini tidak lagi bertumpu pada estetika semata. Pemerintah Kabupaten Buleleng menghadirkan terobosan penataan kota dengan memanfaatkan limbah plastik daur ulang sebagai papan nama jalan di kawasan Titik Nol Kota Singaraja.

Inovasi ini menjadi simbol perpaduan antara penataan kota, kepedulian lingkungan, dan identitas daerah.
Program tersebut digarap melalui kolaborasi Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng bersama Rumah Plastik Mandiri Buleleng. Selain berfungsi sebagai penunjuk jalan, papan nama ini dirancang ramah lingkungan dan memiliki nilai artistik khas Buleleng.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari arahan langsung Bupati dan Wakil Bupati Buleleng dalam merancang gerakan baru penataan kawasan strategis kota.

“Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga ramah lingkungan. Lampu penerangan jalan dirancang menggunakan PJUTS, kabel ditanam di bawah tanah, dan untuk papan nama jalan kami berpikir kenapa tidak memanfaatkan sampah plastik,” ujar Gunawan saat ditemui di Rumah Plastik Mandiri Desa Petandakan, Rabu (11/2/2026).

Ia menjelaskan, ide tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi internal dan kolaborasi lintas pihak. Tantangan utama terletak pada penyesuaian desain dengan regulasi Kementerian Perhubungan, tanpa menghilangkan unsur inovasi dan ciri khas lokal.

“Kami ingin papan nama jalan ini tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga memiliki identitas Buleleng dan bisa menjadi contoh penataan kota berbasis lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng, Eka Darmawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Dinas Perhubungan dalam merealisasikan inovasi tersebut.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng yang telah mempercayai kami. Ini merupakan kehormatan bagi kami karena secara pribadi ini adalah proyek pertama yang akan bisa dinikmati terus-menerus oleh masyarakat dan berada di ruang publik,” kata Eka.

Ia menuturkan, dari sisi desain pihaknya tetap mengacu penuh pada petunjuk teknis yang ditetapkan Dinas Perhubungan, namun ditambahkan sentuhan kreativitas agar tampil berbeda dibandingkan papan nama jalan di daerah lain.

“Juknis dari Dinas Perhubungan tetap kami gunakan 100 persen. Namun kami menambahkan ciri khas, mulai dari penggunaan material plastik jenis HDPE yang aman dan tahan cuaca, sentuhan seni Bali, hingga rencana penambahan ukiran dengan gaya Bali,” jelasnya.

Tak hanya itu, papan nama jalan tersebut juga dirancang bersifat fleksibel dan dinamis. Pada bagian tertentu dapat disesuaikan dengan momentum atau agenda khusus, seperti peringatan Hari Ulang Tahun Kota Singaraja atau Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari sisi teknis produksi, Eka memaparkan bahwa untuk menghasilkan 10 papan nama jalan lengkap dengan tiangnya dibutuhkan sekitar 880 kilogram plastik yang telah tercacah. Jika dihitung dari bahan mentah, jumlah sampah plastik yang dimanfaatkan mencapai lebih dari satu ton.

“Seluruh sampah plastik tersebut dikumpulkan dari jaringan binaan kami, berupa bank sampah dan TPST yang tersebar di seluruh Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.

Ia menambahkan, waktu pengerjaan paling lama berada pada tahap pengumpulan bahan baku. Setelah material tersedia, proses produksi relatif cepat.

“Untuk satu papan nama, pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Secara keseluruhan, dari pengumpulan hingga pemasangan, 10 papan nama dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu bulan,” katanya.

Pada tahap awal penataan kawasan Titik Nol, Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng membutuhkan 10 papan nama jalan untuk lima ruas jalan, masing-masing dipasang di awal dan akhir ruas. Desain papan nama berbahan plastik daur ulang ini juga direncanakan akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui BRIDA.
Melalui inovasi ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap pengelolaan sampah plastik tidak hanya berhenti pada pengurangan volume, tetapi mampu memberi nilai tambah nyata bagi ruang publik, sekaligus memperkuat citra Singaraja sebagai kota yang kreatif, berkelanjutan, dan peduli lingkungan.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru