MAMUJU, Balijani.id | Eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, memasuki fase krusial yang tidak hanya menguji potensi mineral strategis daerah, tetapi juga tingkat kepercayaan publik.
Rencana pengeboran di lebih dari 30 titik Blok Botteng oleh PT Perminas (Persero) menuai penolakan dari warga setempat. Masyarakat mengkhawatirkan dampak eksplorasi terhadap kerusakan lahan, pencemaran sumber air bersih, hingga terganggunya ruang hidup mereka.
Penolakan ini menjadi catatan penting dalam proyek LTJ Mamuju. Keberhasilan eksplorasi mineral strategis dinilai tidak cukup hanya bersandar pada keunggulan teknis dan nilai ekonomi, tetapi juga sangat bergantung pada penerimaan masyarakat (social license to operate).
Potensi Besar vs Tantangan Sosial
Blok Botteng merupakan bagian dari kawasan prospektif LTJ nasional. Badan Geologi Kementerian ESDM memetakan potensi sumber daya tereka LTJ di tiga blok Mamuju (Botteng, Botteng Utara, dan Takandeang) dengan kadar oksida tanah jarang mencapai 2.578 hingga 4.571 ppm.
Namun, besarnya potensi ini berhadapan langsung dengan dinamika sosial. Warga Botteng menilai proses sosialisasi yang dilakukan belum sebanding dengan kebutuhan mereka untuk memahami risiko dan konsekuensi jangka panjang terhadap lingkungan.
Eksplorasi Belum Berarti Tambang Produksi
Menanggapi hal tersebut, PT Perminas menegaskan bahwa kegiatan saat ini masih sebatas eksplorasi dan penelitian awal berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi. Pihak perusahaan menjelaskan beberapa poin penting:
-
Tahap Penelitian: Pengeboran sampel bertujuan memetakan potensi dan belum identik dengan tambang produksi berskala penuh.
-
Proses Panjang: Perjalanan menuju tahap produksi—jika dinyatakan layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan—memerlukan waktu sekitar 8 tahun.
-
Pendekatan Wilayah: Di Desa Takandeang, perusahaan telah melakukan koordinasi desa, merencanakan fasilitas air bersih, menyerap tenaga kerja lokal, dan menyelesaikan ganti rugi lahan terdampak. Namun, pola pendekatan ini belum sepenuhnya diterima di Blok Botteng.
Dialog Terbuka dan Transparansi Informasi
Sebagai bagian dari penyelesaian masalah, forum ilmiah bertema “Green LTJ” telah digelar pada 5 September 2026 di Mamuju. Forum ini mempertemukan PT Perminas, BRIN, akademisi, tokoh masyarakat, serta mahasiswa.
Pendiri Beranda Ruang Diskusi sekaligus alumni Geologi UPN Yogyakarta, Raldy Doy, menekankan pentingnya keterbukaan informasi berbasis data real:
-
Isu Lingkungan: Harus dijawab dengan hasil kajian lingkungan yang komprehensif.
-
Isu Mineral: Dijawab menggunakan data geologi yang valid.
-
Isu Lahan: Diselesaikan secara terbuka, adil, dan transparan.
Raldy menambahkan bahwa forum dialog tidak boleh hanya dimaknai sebagai formalitas untuk mengejar persetujuan otomatis, melainkan sarana menyelaraskan kepentingan strategis negara dengan perlindungan ruang hidup masyarakat.
Ujian Kepercayaan di Lapangan
Penolakan warga Botteng semestinya tidak dipandang sekadar sebagai penghambat proyek. Kejadian ini menjadi instrumen evaluasi untuk menguji sejauh mana kajian ilmiah dan mekanisme perlindungan lingkungan benar-benar disiapkan.
Mamuju kini berada di persimpangan penting. Potensi besar LTJ memang membuka peluang ekonomi nasional, tetapi keberlanjutannya ditentukan oleh komitmen transparansi, perlindungan sumber air, serta penyelesaian masalah lahan yang adil bagi warga lokal.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana







