Buleleng, Balijani.id| Hilangnya seorang ibu dan anak balita di Kabupaten Buleleng akhirnya mulai menemukan titik terang. Setelah lebih dari sepuluh hari pencarian intensif, aparat kepolisian mengungkap dugaan kuat bahwa Sella Yulia Sri Hartati (34) tidak benar-benar menghilang, melainkan sengaja meninggalkan rumah dan menyusun skenario pelarian ke luar negeri.
Sementara itu, anaknya yang masih berusia empat tahun, Gede Prada, diduga lebih dulu dititipkan ke luar Bali.
Peristiwa ini bermula pada 20 Januari lalu, saat Sella dan putranya dilaporkan tidak kembali ke rumah mereka di Banjar Dinas Celukbuluh, Desa Kalibukbuk. Kabar tersebut langsung menggegerkan warga setempat.
Sang suami, Putu Prendy, yang panik dan kebingungan, berupaya mencari keberadaan istri dan anaknya sebelum akhirnya melaporkan peristiwa itu ke Polres Buleleng.
Penyelidikan intensif yang dilakukan Satreskrim Polres Buleleng perlahan mengungkap rangkaian fakta. Dari hasil penelusuran, diketahui balita Gede Prada telah lebih dahulu dititipkan kepada kakek-neneknya di luar Bali. Langkah ini diduga menjadi bagian dari skenario agar sang ibu dapat meninggalkan Bali tanpa membawa anaknya.
Jejak keberangkatan Sella kemudian terdeteksi hingga ke luar negeri. Data intelijen menyebutkan, Sella diduga berada di Maladewa dan berangkat secara diam-diam untuk bekerja sebagai pekerja migran Indonesia.
Polisi kini melakukan koordinasi lintas instansi dan lintas wilayah untuk menelusuri jalur perjalanan serta memastikan keberadaan yang bersangkutan.
Kasus ini menyisakan keprihatinan mendalam, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepergian tanpa pamit, disertai pemisahan anak dari orang tua, memunculkan pertanyaan besar tentang latar belakang dan motif di balik keputusan nekat tersebut. Di sisi lain, perhatian utama aparat saat ini tertuju pada kondisi dan keselamatan Gede Prada.
Polisi mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi terkait keberadaan Sella Yulia Sri Hartati maupun anaknya agar segera melapor ke pihak berwajib. Upaya pencarian dan penelusuran terus dilakukan untuk memastikan anak berada dalam kondisi aman serta memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tekanan hidup dan persoalan ekonomi kerap mendorong seseorang mengambil keputusan ekstrem, yang dampaknya tidak hanya dirasakan pribadi, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, terutama anak yang semestinya mendapat perlindungan dan kasih sayang penuh.
[ Editor : Sarjana ]







