Buleleng, Balijani.id | Pujawali di Pura Parahyangan Agung Desa Bungkulan yang jatuh pada Rahina Saniscara Kajeng Kliwon Kuningan, Sabtu (27/6/2026), kali ini terasa sangat berbeda. Hari suci ini tidak hanya menjadi panggung ritual keagamaan yang khidmat, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana generasi muda Bali bergerak menjaga kesucian tanah leluhur lewat aksi lingkungan yang progresif.
Petajuh I Pura Parahyangan Agung Desa Bungkulan, I Gusti Ngurah Ketut Sumarjana, menyampaikan bahwa persiapan piodalan kali ini berjalan dengan penuh sinergi. Demi kelancaran dan kekhidmatan acara, pihak prajuru turut mengundang Gubernur Bali, Bupati Buleleng, serta jajaran perangkat daerah terkait untuk hadir dan menyaksikan langsung jalannya upacara suci tersebut.
Gebrakan HITS SMK Negeri Kubutambahan: Ngayah Gaya Baru!
Ada pemandangan menarik yang mencuri perhatian dalam kegiatan ngayah (gotong royong) kali ini. Puluhan siswa dari SMK Negeri 1 Kubutambahan turun langsung ke area pura. Bukan sekadar hadir, mereka membawa misi besar lewat Program HITS (Hospitality Integrated Triangle System).
Dipimpin oleh Ni Kadek Serli Oktaviani selaku perwakilan siswa, para Gen Z ini membaur bersama warga untuk melakukan aksi kebersihan total. Mereka memilah dan membersihkan sampah langsung dari sumbernya di seluruh area pura.
”Kami sangat bangga bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus menjalankan program HITS dari sekolah. Ini adalah bentuk dukungan nyata kami sebagai Gen Z terhadap program Pemerintah Provinsi Bali untuk mengelola sampah berbasis sumber,” ujar Serli penuh semangat saat diwawancarai oleh media Balijani.
Mengapa Aksi Ini Wajib Dicontoh?
Gerakan yang ditunjukkan oleh siswa-siswi SMK Negeri 1 Kubutambahan ini berhasil menepis stereotipe bahwa generasi muda mulai acuh terhadap budaya dan lingkungan. Melalui payung sistem HITS, mereka sukses mengawinkan nilai spiritual Ayahan dengan kepedulian ekologis modern.
Aksi nyata ini menjadi refleksi sekaligus motivasi bagi seluruh lapisan masyarakat: jika anak-anak sekolah mampu bergerak menjaga kesucian pura dan alam, mengapa kita tidak?
”Mari jadikan momentum Kuningan ini sebagai titik balik untuk mewujudkan Bali yang bersih, sukla (suci), dan lestari. Kreativitas dan bakti dari Buleleng ini adalah bukti kuat bahwa masa depan pariwisata budaya Bali berada di tangan generasi yang tepat!”
[ Editor : Beryl ]
Kredit Editorial
- Editor: Beryl













