BULELENG, Balijani.id | Momen penanaman pohon dalam rangkaian Sudaji Peace Trail Fun Run 2026 menghadirkan pesan penting. Di tengah seremoni reboisasi, Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengingatkan pentingnya menanam pohon dengan teknik yang benar agar kegiatan tidak berhenti sekadar sebagai aksi seremonial.
Penanaman simbolis tersebut berlangsung di Lapangan Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, pada Minggu (20/9/2026). Pohon yang dipilih adalah bibit Nagasari, tanaman yang memiliki nilai filosofis mendalam sekaligus manfaat ekologis bagi masyarakat Bali.
Sebelum prosesi dimulai, Ketua Panitia Ketut Susana menjelaskan alasan di balik pemilihan bibit Nagasari. Menurutnya, nama Nagasari menyimpan makna hubungan harmonis antara manusia dengan Ibu Pertiwi serta harapan akan kehidupan yang terus bertumbuh.
“Kami memilih pohon Nagasari karena filosofinya menggambarkan perjalanan kehidupan. Harapannya, penanaman ini menjadi doa agar kita semakin sadar menjaga Ibu Pertiwi dan alam kembali memberikan kemakmuran bagi masyarakat,” ujarnnya.
Koreksi Jarak Tanam dan Komitmen Pelestarian Alam
Namun, saat hendak menanam, Ny. Putri Suastini Koster langsung memberikan arahan kepada panitia terkait tata letak bibit yang dinilai terlalu rapat dengan pohon di sekitarnya. Ia menegaskan bahwa penanaman pohon harus memperhitungkan ruang tumbuh agar tanaman dapat berkembang optimal.
“Ini boleh secara simbolis, tetapi nanti tolong dipindahkan. Jarak tanamnya terlalu dekat. Kalau pohon seperti kelapa, idealnya sekitar 10 meter agar tidak saling menghambat pertumbuhan dan tetap produktif berbuah,” tegasnya.
Arahan spontan tersebut langsung menjadi catatan edukatif bagi panitia mengenai praktik reboisasi yang benar. Bagi masyarakat Desa Sudaji, aksi penanaman pohon ini bukan sekadar pelengkap rangkaian acara, melainkan simbol komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam secara tepat dan berkelanjutan.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana
















