DENPASAR, Balijani.id | Ketika tubuh mulai kehilangan kekuatan, sebagian orang justru masih harus berdiri tegap di tengah derasnya arus lalu lintas demi mempertahankan penghidupan.
Para tukang parkir lanjut usia kerap berdiri di tepi jalan dengan tangan sesekali terangkat memberi aba-aba kepada kendaraan yang hendak masuk atau keluar. Di tengah gemuruh suara mesin, riuh klakson, dan hilir mudik kendaraan, mereka menjalankan peran yang kerap dipandang sebelah mata: mengatur alur dan membantu pengendara. Namun, di balik seragam sederhana dan tiupan peluit mereka, tersimpan persoalan keselamatan serius yang sering kali luput dari perhatian publik.
Seberapa aman seorang lansia bekerja di lingkungan ekstrem yang setiap detik berhadapan langsung dengan ancaman kendaraan bergerak? Pertanyaan ini mendesak untuk direfleksikan. Bekerja sebagai juru parkir bukan sekadar memandu arah secara teknis. Pekerjaan ini menuntut daya tahan tubuh untuk berdiri berjam-jam, kemampuan bergerak cepat, keberanian menyelinap di antara ruang sempit antarkendaraan, hingga kesiapan berhadapan dengan pengendara yang kurang berhati-hati. Dalam situasi tertentu, keterlambatan respons meski hanya sepersekian detik dapat berakibat fatal.
Bagi pekerja muda, tuntutan fisik tersebut mungkin masih bisa diimbangi oleh refleks yang tajam dan kebugaran tubuh. Niat dan persoalan menjadi sangat berbeda ketika tugas berat ini dipikul oleh seseorang yang telah memasuki usia senja.
Ketika Usia Tak Lagi Menawarkan Pilihan
Menjadi tukang parkir di usia lanjut sering kali lahir bukan dari sebuah pilihan, melainkan keterpaksaan hidup. Bagi mereka, ini adalah jalan paling realistis untuk tetap menyambung hidup dan menjaga kemandirian ekonomi. Faktor usia membuat lapangan kerja makin menyempit: pekerjaan fisik berat tak lagi sanggup dilakoni, sementara pekerjaan berbantu keterampilan khusus tidak selalu tersedia. Dalam keterbatasan tersebut, aspal dan ruang parkir berubah menjadi arena bertahan hidup.
Di sinilah letak dilemanya. Di satu sisi, masyarakat patut mengapresiasi kegigihan para lansia yang menolak berpangku tangan dan memilih bekerja secara mandiri. Namun di sisi lain, semangat pantang menyerah tersebut tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan jiwa mereka. Kemauan keras untuk bekerja tidak otomatis berarti tubuh mereka masih sanggup menanggung seluruh risiko fisik pekerjaan tersebut.
Ironisnya, isu ini kerap tak terlihat karena publik cenderung melihat fungsi tukang parkir ketimbang kondisi manusianya. Ketika kendaraan berhasil keluar tanpa benturan atau area parkir terlihat rapi, tugas dianggap selesai. Padahal, di balik ketertiban tersebut, ada tubuh rentan yang bertaruh keselamatan di antara lalu lalang kendaraan.
Risiko Nyata yang Terabaikan
Risiko keselamatan yang dihadapi juru parkir lansia sangatlah nyata dan konkret. Mereka bekerja di area terbuka tanpa batas tegas antara ruang kendaraan dan pejalan kaki. Mereka tidak dibekali perlindungan fisik seperti separator jalan, tempat berlindung khusus, maupun alat pelindung diri memadai layaknya pekerja di sektor formal.
Kondisi ini makin mengkhawatirkan saat jam-jam sibuk. Padatnya arus lalu lintas memperbesar peluang terjadinya kecelakaan. Pengendara yang terburu-buru, pergerakan kendaraan yang mendadak, atau pengemudi yang mengabaikan aba-aba dapat menempatkan juru parkir lansia pada posisi yang sangat berbahaya.
Secara alami, pertambahan usia berdampak pada penurunan fungsi penglihatan, pendengaran, keseimbangan, serta kecepatan respons. Hal ini bukan berarti orang lanjut usia sama sekali tidak boleh bekerja, melainkan jenis dan lingkungan kerja mereka yang sudah sepatutnya disesuaikan dengan kondisi fisik.
Mewujudkan Kebijakan yang Manusiawi
Sangat disayangkan jika kepedulian terhadap keselamatan juru parkir baru mencuat setelah musibah terjadi. Pola reaktif ini harus diubah. Keselamatan seharusnya dibangun melalui langkah pencegahan, bukan sekadar penyesalan pascakecelakaan. Pemerintah daerah, pengelola kawasan, serta pemangku kepentingan perparkiran perlu menempatkan para petugas ini sebagai bagian penting dari ekosistem keselamatan jalan raya.
Langkah konkret yang dapat diambil meliputi:
-
Penataan Tata Ruang Parkir: Menyediakan zonasi yang jelas serta titik berdiri yang aman bagi petugas agar tidak langsung berhadapan dengan jalur laju kendaraan.
-
Perlengkapan Keselamatan: Membekali petugas dengan rompi reflektif, peluit berstandar, serta sarana pendukung keamanan lainnya.
-
Pembagian Peran Berbasis Kondisi Fisik: Menerapkan redistribusi tugas yang lebih bijak. Petugas lansia dapat ditempatkan pada titik yang relatif aman—seperti penanganan administrasi, pos pembayaran, atau pengawasan area—sementara tugas lapangan berkecepatan tinggi dapat diserahkan kepada petugas yang lebih muda.
Pilihan untuk tetap bekerja di usia tua adalah simbol martabat dan perjuangan hidup. Sudah menjadi kewajiban bersama untuk memastikan bahwa usaha mereka dalam mencari nafkah tidak sampai mengorbankan keselamatan dan jiwa mereka.
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana













