Pujawali Pura Taman Desa Adat Tista, Perkokoh Yadnya Melalui Ngayah Dengan Tulus

Buleleng, Balijani.id| Purnama kapat yang jatuh pada hari Senin, 6 /10/2025 merupakan hari piodalan Pura Taman Desa adat Tista Desa Baktiseraga Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng , tujuan pelaksanaan piodalan adalah penghormatan dan rasa syukur kepda ida sanghyang widi wasa yang melinggih di Pura Taman karena telah diberikan keselamatan dan kelancaran dan berjalan dengan hikmat dan rasa memiliki

Pujawali di Pura Taman tahun ini sangat beda setelah 5 tahun tidak melaksanakan pujawali karena adanya covid -19, dan beberapa kendala di desa adat Tista dibawah Kelian Desa adat Tista Desa Baktiserga Jro Komang Hendy Putra Sastrawan, Jro Kebayan Ketut Ardana, Tridatu Ngurah Martana, Pengliman Jro I Gede Antana, Kerta Desa adat Tista, Krandan, Jro Saye Tahun lan Krama Desa.

Pujawali di mulai dari 16.00 sampai dengan pukul 23.30 WITA, piodalan sangat berjalan lancar dan tertib dengan kegotongroyongan dan ngayah secara tulus, diawali dengan mesucian, Mecaru, Persembahyangan bersama, dan lebih hikmat krame desa ngayah sampai adanya nunas paice, ilen – ilen desa istri, Krandan dan suguhan bondres dan pementasan topeng sidekarya oleh Putu Bagor dkk

Menurut Kelian Desa Adat Tista Jro Komang Hendy Putra Sastrawan mengatakan rasa syukur pada prajuru, Jro mangku lana krame dimana kegiatan Ngayah memiliki makna yang sangat penting dalam penyelenggaraan upacara keagamaan di Bali. Ngayah merupakan kearifan lokal Bali yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat desa adat Tista dengan tujuan bekerja sama secara sukarela tanpa paksaan atau gotong royong secara tulus ikhlas tanpa memandang kelas sosial maupun status sosial sehingga terwujudnya keakraban maupun persatuan di dalam kelompok masyarakat

Jro Kelian Adat Tista Desa Baktiseraga yang di dampingi Prajuru, Tridatu, Jro Mangku Kayangan tiga menegaskan

Makna Piodalan dan Tujuannya

Piodalan berasal dari kata “wedal” yang berarti keluar atau lahir. Sehingga, piodalan atau odalan dimaknai sebagai hari peringatan berdirinya sebuah bangunan suci atau pura.

Peringatan atau piodalan yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali juga kerap disebut dengan istilah pujawali, petoyan, atau petirtaan. Selama rangkaian piodalan, sebagai upacara Dewa Yadnya, Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan menjadi tujuan pemujaan yang dilakukan umat Hindu.

Bagi umat Hindu di Bali, piodalan wajib dilaksanakan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Upacara ini bertujuan untuk mewujudkan kehidupan harmonis dan sejahtera lahir batin.

Syarat Piodalan (Odalan)

Terdapat tujuh syarat atau Satwika Yadnya suatu piodalan atau Dewa Yadnya dilaksanakan, yakni:

Sraddha: melaksanakan yadnya dengan penuh keyakinan, Lascarya : melaksanakan yadnya dengan penuh keikhlasan, Sastra : melaksanakan yadnya dengan berlandaskan sumber sastra (Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastuti), Daksina : melaksanakan yadnya dengan sarana upacara, Mantra dan Gita : melaksanakan yadnya dengan melantunkan lagu-lagu suci untuk pemujaan, Annasewa : melaksanakan yadnya dengan persembahan jamuan makan kepada para tamu yang menghadiri upacara
Nasmita : melaksanakan yadnya dengan tujuan bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.

[ Editor : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *