Buleleng, Balijani.id ~ Partai Golkar Provinsi Bali dipastikan siap menggelar Musyawarah Daerah (Musda) pada 13 Juli 2025. Meskipun surat resmi dari DPP belum diterima, jajaran pengurus telah menyatakan kesiapan penuh menyambut hajatan politik lima tahunan tersebut.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, Dr. Nyoman Sugawa Korry, mengungkapkan informasi terkait pelaksanaan Musda disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Umum Golkar Wilayah Indonesia Timur, Melki, ketika di wawancarai media, Minggu (6/7/2025)
“Informasi kemarin dari Wakil Ketua Umum Indonesia Timur Pak Melki bahwa tanggal 13 Juli. Pak Sekjen sudah menghubungi, walaupun belum ada surat resmi, tapi kami sudah mempersiapkan diri. Jadi kami akan melaksanakan Musda dalam suasana yang terbaik. Besok saya akan rapatkan, dan kita adakan Musda itu dengan sebaik-baiknya. Intinya, Bali siap mengadakan Musda tanggal 13,”
ujar Sugawa.
Saat ditanya soal peluang dirinya maju kembali sebagai Ketua DPD, Sugawa Korry menyatakan akan bersikap tegak lurus pada arahan DPP, khususnya Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Saya akan maju kalau memang DPP merestui. Kalau DPP sudah memberikan lampu hijau, saya siap. Tapi kalau belum ada restu, ya belum bisa dikatakan kandidat. Karena saya sebagai incumbent secara aturan memenuhi syarat,”
jelasnya.
Ia menambahkan, dirinya tidak berada pada posisi optimistis atau pesimistis. Semuanya diserahkan sepenuhnya kepada keputusan DPP.
“Kalau Ketua Umum memberikan arahan untuk maju, saya maju. Tapi kalau tidak, ya saya tidak. Saya menunggu arahan,”
tegasnya.
Terkait potensi munculnya kandidat lain, Sugawa Korry menegaskan bahwa Partai Golkar adalah partai yang terbuka. Siapa pun yang memenuhi syarat dan mendapat dukungan minimal 30% dari total suara berhak mencalonkan diri.
“Golkar itu partai yang terbuka. Siapa pun boleh maju. Tidak tergantung pada pemimpinnya. Dalam pidato tadi saya sampaikan, Golkar tetap berjalan siapa pun pemimpinnya. Mau Airlangga, Setya Novanto, Pak Soewarno, atau nanti Pak Bahlil, partai tetap jalan. Tidak seperti partai lain,”
katanya.
Ia bahkan membuka ruang kompetisi secara sehat, jika ada kader yang ingin maju dan memenuhi syarat dukungan.
“Kalau ada tiga calon misalnya, masing-masing dapat lima suara dari total 15 suara, itu sah. Atau bisa juga nanti muncul calon tunggal kalau dukungan mayoritas jatuh ke satu nama. Semua tergantung dinamika dan keputusan para pemilik suara,”
pungkasnya.
Sugawa Korry kembali menegaskan bahwa yang terpenting bukan soal jabatan, melainkan kontribusi terhadap kemajuan partai.
“Kita ini mengabdi untuk partai. Kalau sampai bertentangan dengan DPP, ide kita tidak nyambung, itu percuma. Tujuan saya sederhana, ingin tetap bermanfaat dan berguna bagi partai,”
ujarnya menutup pernyataan.
Sumber informasi terkait pelaksanaan Musda dapat dikaitkan dengan ketentuan Kemendagri dan pengawasan organisasi partai politik oleh Bawaslu RI.














