Advertisement
Kirim Opini Balijani
✍️ Kirim Opini ke Redaksi
Sampaikan pandangan, ulasan, atau kritik membangun Anda.

Tradisi Safaran Kampung Kusamba dan Gelgel: Simbol Toleransi dan Kebersamaan Umat di Klungkung

Balijani.id, 12 Agu 2026, 15:51 WIB
Bupati Klungkung I Made Satria bersama krama masyarakat Desa Kampung Kusamba dan Kampung Gelgel saat mengikuti tradisi megibung dalam perayaan Safaran di Pantai Kusamba

KLUNGKUNG, Balijani.id | Bupati Klungkung, I Made Satria, menghadiri tradisi tahunan Safaran yang digelar oleh masyarakat Desa Kampung Kusamba dan Desa Kampung Gelgel di pesisir Pantai Desa Kampung Kusamba, Rabu (12/8/2026). Tradisi yang dilaksanakan setiap akhir bulan Safar ini menjadi ruang penting dalam memperkuat silaturahmi, persaudaraan, dan toleransi antarwarga di Kabupaten Klungkung.

Tradisi Safaran diisi dengan doa bersama dan diakhiri dengan tradisi megibung (makan bersama). Uniknya, masyarakat Desa Kampung Kusamba menyiapkan hidangan khas berupa tipat dan bantal, sementara masyarakat Desa Kampung Gelgel menyajikan nasi kuning dan bantal untuk dinikmati bersama oleh seluruh warga dan rombongan dari berbagai kampung Muslim lainnya.

Memperkuat Silaturahmi dan Identitas Budaya

Dalam sambutannya, Bupati I Made Satria mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam menjaga warisan budaya luhur ini.

“Tradisi ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang kaya akan nilai luhur. Melalui kegiatan ini, kita memperkuat silaturahmi dan persaudaraan—hal yang sangat relevan dengan visi pembangunan Kabupaten Klungkung,” ujar Bupati Satria.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penerus untuk memahami makna mendalam dari tradisi tersebut agar tetap lestari di masa depan.

Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional

Sementara itu, Perbekel Desa Kampung Kusamba, Syahrul Ramadan, mengungkapkan bahwa tradisi Safaran saat ini sedang diusulkan untuk mendapat pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional Tahun 2026. Sejumlah tahapan verifikasi dan penggalian sejarah oleh tim ahli telah dilalui.

“Harapan kami seluruh proses berjalan lancar. Pelestarian tradisi Safaran tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat ruang kebersamaan dan nilai toleransi yang telah diwariskan secara turun-temurun di pesisir Klungkung,” pungkas Syahrul.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru