Advertisement
Kirim Opini Balijani
✍️ Kirim Opini ke Redaksi
Sampaikan pandangan, ulasan, atau kritik membangun Anda.

Gubernur Koster Tegaskan AI Tak Boleh Gantikan Kecerdasan Budaya dalam Pembangunan Bali

Balijani.id, 5 Sep 2026, 08:45 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan pemaparan kunci mengenai pentingnya menjaga kecerdasan budaya di tengah perkembangan teknologi AI pada Temu Ilmiah IPLBI ke-14 di Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).

DENPASAR, Balijani.id | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh sampai menggerus nilai, identitas, dan tradisi lokal. Pemanfaatan teknologi canggih harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan budaya, bukan malah menggantikannya.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat membuka sekaligus menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 yang berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).

Acara yang berlangsung selama tiga hari (3–5 September 2026) tersebut mengusung tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” ujar Gubernur Koster di hadapan para peneliti, akademisi, dan praktisi lingkungan binaan.

Menurutnya, menjaga keseimbangan antara kemajuan fisik, kelestarian alam, dan kebudayaan menjadi landasan utama pengembangan lingkungan binaan Bali di tengah ancaman perubahan iklim dan risiko bencana. Langkah ini selaras dengan Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125) serta penerapan nilai-nilai Sad Kerthi sebagai pijakan etis dan ekologis.

Bali Sebagai Laboratorium Masa Depan

Dalam kesempatannya, Gubernur Koster mendorong perguruan tinggi dan peneliti untuk menggali pengetahuan lokal seperti Arsitektur Tradisional Bali dan Subak melalui riset, inovasi, serta pemanfaatan teknologi terkini.

Ia menekankan agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan hadir dalam bentuk solusi konkret—seperti prototipe, kebijakan, dan model pembangunan rendah karbon yang adaptif.

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan. Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan, melainkan proyek peradaban,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, menjelaskan bahwa forum ini menjadi ruang kolaborasi antara teknologi, lokalitas, dan budaya. Rangkaian agenda meliputi seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, hingga field trip arsitektur.

Turut hadir dalam pembukaan tersebut Ketua IPLBI Periode 2024–2027, Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, bersama para perencana, arsitek, dan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru