Buleleng, Balijani.id| Di tengah terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Air Terjun Sekumpul, Pemerintah Desa Sekumpul menyoroti satu persoalan mendasar: desa penghasil kunjungan wisata dinilai belum sepenuhnya mendapat perhatian yang sepadan dari pemerintah.
Perbekel Desa Sekumpul, Made Suarta, menegaskan bahwa denyut ekonomi di wilayahnya saat ini banyak ditopang sektor pariwisata. Karena itu, menurutnya, desa-desa yang terbukti menjadi penyumbang aktivitas ekonomi daerah seharusnya mendapat perhatian lebih serius, baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.
“Kalau saya rasakan memang benar adanya seperti itu. Saya juga berpikir bahwa Bali ini sebenarnya kehidupan masyarakatnya memang lebih banyak ditopang dari pariwisata. Oleh sebab itu kami berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi lebih memperhatikan desa-desa yang sudah nyata menyumbangkan sesuatu terhadap daerah, karena kami juga membayar pajak setiap tahunnya. Sehingga desa-desa yang sudah mendapat respons luar biasa dari wisatawan mancanegara ini benar-benar diperhatikan,” ujarnya.
Menurut Made Suarta, geliat wisata di Sekumpul bukan sesuatu yang dibangun dalam waktu singkat. Kawasan air terjun itu mulai dikembangkan sejak 2004, namun pertumbuhannya berjalan perlahan dan penuh tantangan.
“Air Terjun Sekumpul ini sebenarnya mulai dibuka dari program PMP pada masa Presiden SBY tahun 2004. Namun perkembangannya berjalan pelan-pelan, sehingga kami menjalaninya dengan penuh kesabaran,” katanya.
Ia mengakui, ketika destinasi mulai menghasilkan, tantangan baru justru muncul di tingkat lokal, terutama soal tata kelola dan kesamaan visi antar unsur desa.
“Karena bagaimanapun kita ketahui, setiap kawasan wisata yang sudah menghasilkan kadang-kadang memunculkan persoalan, terutama antara adat dan dinas. Ini yang perlu diantisipasi agar betul-betul ada kolaborasi dan pandangan yang sama antara seluruh pemangku kebijakan di desa, baik adat maupun dinas. Pada akhirnya, yang harus menikmati hasilnya adalah masyarakat desa itu sendiri,” jelasnya.
Di luar persoalan internal, Desa Sekumpul kini melihat peluang lebih besar. Wisata dinilai bukan hanya membuka lapangan kerja bagi warga lokal, tetapi juga mendorong tumbuhnya UMKM dan inovasi anak muda desa.
“Dengan respons yang luar biasa sekarang ini, desa wisata harus punya daya tarik wisata lebih dari satu. Dampaknya sangat besar, selain meningkatkan kunjungan, juga bisa membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda di desa,” ujarnya.
Ke depan, Desa Sekumpul ingin mengubah pola kunjungan wisata yang selama ini hanya singgah sebentar. Konsep baru sedang disiapkan agar wisatawan bisa tinggal lebih lama dan menikmati pengalaman penuh di desa.
“Pengembangan berikutnya adalah bagaimana wisatawan bisa satu hari penuh berwisata di desa, konsepnya one day tour and village. Nantinya desa-desa sekitar juga akan kami libatkan,” katanya.
Ia menjelaskan konsep itu akan menawarkan pengalaman desa secara utuh, mulai dari alam, kehidupan masyarakat, budaya, hingga kesenian lokal.
“Kami ingin mengenalkan kehidupan desa secara lengkap, mulai dari parahyangan, kehidupan masyarakat, sampai aktivitas keseharian warga. Setelah menikmati alam, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni pada sore harinya. Jadi mereka benar-benar merasakan pengalaman desa yang berbeda,” tambahnya.
Made Suarta juga menyoroti fakta bahwa banyak wisatawan yang datang ke Sekumpul justru menginap di wilayah Bali Selatan seperti Ubud dan Canggu, bukan di Buleleng. Menurutnya, ini menjadi pekerjaan rumah besar agar manfaat ekonomi tidak hanya lewat kunjungan, tetapi juga dari lama tinggal wisatawan.
Baginya, Sekumpul bukan sekadar destinasi alam, melainkan “mutiara tersembunyi” yang belum digarap maksimal. Jika pemerintah pusat, provinsi, dan daerah serius berkolaborasi, desa-desa di kawasan pegunungan Buleleng diyakini bisa menjadi poros baru pariwisata Bali utara bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga benar-benar menyejahterakan warganya.
[ Editor : Sarjana ]












