Buleleng, Balijani.id | Keberadaan Pura Prapat Agung yang ikonik di dalam kawasan hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), tepat di perbatasan wilayah Jembrana-Buleleng, menyimpan draf sejarah perjalanan panjang selama puluhan tahun hingga mampu berdiri megah seperti saat ini. Bangunan suci ini tegak berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare, mencengkeram tebing bebatuan karang di area perbukitan miring.
Tidak jauh dari kompleks utama, terdapat pula kawasan Pura Taman Beji yang memiliki draf keunikan berupa tiga telaga berwarna-warni yang membentang di atas lahan seluas 50 are. Posisi geografis pura ini berhadapan langsung dengan lebatnya medan hutan rimba, bertengger di puncak perbukitan dengan kontur tanah berkarang yang memiliki sudut kemiringan cukup curam.
Sejarah draf pembangunan Pura Prapat Agung ini pertama kali dirintis pada tahun 1991 silam. Fase awal pembukaan lahan hutan perawan tersebut diawali dengan prosesi adat nyukat genah (pengukuran areal suci). Dalam perjalanannya, draf pencarian titik koordinat spiritual untuk pemancangan fondasi bangunan pelinggih sempat menemui berbagai kendala teknis dan non-teknis yang berat.
Selain karena proses pembersihan lahan harus berhadapan dengan barisan pepohonan hutan yang berukuran raksasa, draf penebangan pohon pun wajib dilakukan secara selektif dan ketat demi menjaga kelestarian ekosistem atas izin resmi dari pihak pengelola balai TNBB.
Penentuan koordinat draf bangunan pura pada akhirnya disesuaikan dengan metode sukat atau ukuran tradisional Bali yang diselaraskan dengan topografi puncak perbukitan curam tersebut. Adapun pakem draf ukuran sukat pura ini diambil langsung dari rujukan draf Sukat Pita Maha yang bersumber dari Griya Mas, Gianyar.
Perjalanan Spiritual 34 Tahun
Letak pembangunan struktur utama pura yang persis berada di posisi kemiringan bukat terjal membuat para penglingsir dan krama pemedak menghadapi tantangan luar biasa sewaktu draf nyukat genah berlangsung.
“Meskipun saat ini seluruh bangunan pelinggih-pelinggih suci sudah tergolong lengkap, namun draf proses pembangunannya dari awal memakan waktu yang sangat panjang. Jika dihitung sejak pertama kali batu pertama diletakkan hingga kondisi sekarang, proses pemeliharaan dan pelengkapan pura ini sudah berjalan hampir 34 tahun lamanya,” ungkap salah satu penglingsir pura setempat.
Secara historis-spiritual, Pura Prapat Agung diyakini kuat merupakan salah satu jejak petilasan suci dari draf perjalanan darmayatra Ida Peranda Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha) selama menyebarkan tuntunan dharma di Pulau Bali, khususnya saat melintasi wilayah Jembrana dan Buleleng Barat.
Arsitektur bangunan pelinggih serta draf penataan ruang pelengkap di pura ini secara rigid menerapkan konsep tata ruang suci Trimandala (Utama, Madya, dan Nista Mandala).
Pada zona Utama Mandala (area paling suci), berdiri beberapa draf bangunan sakral utama seperti Pelinggih Padmasana, Pelinggih Danghyang Nirartha, Pelinggih Danghyang Astapaka, Pelinggih Ratu Nyoman, Pelinggih Taksu, Pelinggih Gedong Ibu, serta bangunan Pepelik.
Sementara itu, pada zona Pelinggih Payogan yang terletak di sisi utara bangunan utama, terdapat draf situs unik berupa sumur suci yang memancar alami di atas bongkahan batu karang kering.
Bergeser ke area Madya Mandala (zona tengah), terdapat beberapa draf bangunan pelengkap ritual keagamaan, di antaranya bangunan Bale Gong, Bale Pesandekan, Bale Pewedaan, serta Bale Banten. Sedangkan pada bagian Nista Mandala (zona terluar), telah rampung dibangun fasilitas umum penunjang aktivitas krama seperti bangunan Bale Kulkul, dapur umum tempat pesayuban, serta fasilitas MCK yang memadai.
[ Editor : Sarjana ]













