Advertisement
Kirim Opini Balijani
✍️ Kirim Opini ke Redaksi
Sampaikan pandangan, ulasan, atau kritik membangun Anda.

Klaim Perjuangan Shortcut Buleleng Dipersoalkan, Tokoh Kubutambahan: Jangan Bohongi Publik!

Balijani.id, 6 Agu 2026, 18:25 WIB
Tokoh masyarakat Desa Kubutambahan Buleleng Gede Angastia saat menyampaikan keterangan terkait pembangunan jalan shortcut Singaraja–Mengwitani

BULELENG, Balijani.id | Tokoh masyarakat Desa Kubutambahan, Gede Angastia (Anggas), melontarkan kritik keras terhadap pihak-pihak yang mengklaim sebagai sosok paling berjasa dalam realisasi proyek shortcut Singaraja–Mengwitani. Menurutnya, masyarakat Bali, khususnya di Buleleng, memahami betul proses panjang dan lintas kepemimpinan yang telah dilalui hingga proyek strategis tersebut berhasil diwujudkan.

Anggas menegaskan bahwa pembangunan shortcut bukanlah hasil kerja tunggal satu orang, melainkan buah dari sinergi dan proses yang telah dirintis sejak bertahun-tahun lalu. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemerintah yang konsisten melanjutkan program tersebut hingga kini mendekati tahap penyelesaian.

“Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Wayan Koster. Shortcut ini sudah terwujud sampai titik 1-2 dan kini dilanjutkan hampir selesai. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Mangku Pastika bersama Wakil Gubernur Ketut Sudikerta yang mengandalkan dan mengajukan program ini pada tahun 2017 ke Bappenas, Kementerian PUPR, Kemenhub, hingga Kemenkeu agar mendapat alokasi anggaran,” ujar Anggas.

Ia menambahkan, niat baik dan landasan yang diletakkan pada 2017 tersebut kemudian dilanjutkan secara intensif oleh Gubernur Wayan Koster melalui pengawalan ke pemerintah pusat hingga pengerjaan fisik shortcut saat ini telah mencapai sekitar 75 persen.

Soroti Klaim Sepihak dan Rekam Jejak

Menurut Anggas, munculnya klaim sepihak dari tokoh tertentu yang mengaku paling berperan justru mencederai fakta sejarah yang diketahui publik. Ia menilai klaim semacam itu tidak sehat dalam wacana pembangunan daerah.

“Kalau orang Bali bilang, nyongkokin tain kebo. Mengaku sih sah-sah saja, tetapi masyarakat Buleleng dan Bali tahu bagaimana proses sebenarnya. Sangat mentah kalau ada yang mengaku berjuang sendiri di sini. Menurut saya itu membohongi publik dan membohongi dirinya sendiri seolah-olah ingin menjadi pahlawan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Anggas menyinggung rekam jejak pihak yang kini rajin mengklaim perjuangan pembangunan tersebut. Ia mengungkit persoalan masa lalu terkait pengalihan alokasi pembangunan daerah yang sempat masuk dalam pembahasan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI pada tahun 2016. Oleh karena itu, ia menilai klaim sebagai “pejuang utama” sangat tidak tepat.

Manfaat Nyata untuk Pariwisata dan Ekonomi Buleleng

Di luar polemik klaim tersebut, Anggas mengakui keberadaan shortcut telah memberikan dampak positif yang nyata bagi mobilitas masyarakat Buleleng. Selain memangkas waktu tempuh sekitar 30 menit, akses jalan yang makin nyaman kini mengikis keengganan wisatawan untuk berkunjung ke wilayah Bali Utara.

“Saya sangat mengapresiasi Bapak Gubernur Wayan Koster yang nyata membangun Bali, terutama untuk Buleleng. Dulu banyak wisatawan dari Denpasar enggan ke Buleleng karena jalurnya membuat mabuk perjalanan. Sekarang waktu tempuh berkurang dan perjalanan jauh lebih nyaman. Pak Koster tidak banyak berbicara, tetapi langsung berbuat,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Anggas berharap proyek-proyek infrastruktur strategis lainnya di Bali, seperti Tol Mengwi–Gilimanuk, dapat segera terealisasi. Ia juga mengajak para wakil rakyat asal Bali di tingkat nasional untuk fokus pada kerja nyata bagi daerah ketimbang mengedepankan narasi perseteruan.

[ Editor : Sarjana ]

Advertisement
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru