News  

Gubernur Koster Pimpin Sembahyang Tumpek Wayang di Klungkung

Balijani.id, 14 Mar 2026, 06:09 WIB

Klungkung, Balijani.id| Perayaan Rahina Suci Tumpek Wayang diperingati secara khidmat dengan persembahyangan bersama di Pura Agung Kentel Gumi, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Sabtu (15/3). Upacara suci ini dipimpin langsung oleh Gubernur Bali I Wayan Koster bersama Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra. Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra, para asisten dan staf ahli bupati, serta kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Suasana sakral terasa sejak pagi ketika para pemedek memadati kawasan pura untuk mengikuti rangkaian persembahyangan. Kehadiran jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi simbol dukungan terhadap pelestarian nilai-nilai adat, budaya, dan spiritualitas masyarakat Bali. Momentum ini juga dimaknai sebagai upaya memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan bahwa Tumpek Wayang memiliki makna spiritual yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali. Hari suci ini tidak hanya menjadi waktu untuk memuja Sang Hyang Iswara, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap berbagai karya seni dan sarana budaya yang menjadi identitas masyarakat Bali.

“Tumpek Wayang adalah momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan seni dan budaya sebagai warisan leluhur. Melalui upacara ini kita memohon tuntunan dan kerahayuan kepada Sang Hyang Iswara agar seni budaya Bali tetap lestari dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat,” ujar Koster.

Tumpek Wayang merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang datang setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari. Perayaan ini jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang dan menjadi bagian penting dari siklus upacara keagamaan umat Hindu. Dalam tradisi Bali, hari ini diyakini memiliki nilai spiritual yang kuat untuk memohon keselamatan serta kesucian bagi berbagai sarana kesenian.

Pada perayaan Tumpek Wayang, umat Hindu menghaturkan upacara kepada pratima, wayang, serta berbagai alat kesenian yang digunakan dalam kegiatan budaya dan spiritual. Berbagai instrumen seperti gong, gender, angklung, hingga kentongan juga disucikan sebagai bentuk penghormatan terhadap seni sebagai sarana yadnya. Tradisi ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara agama dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Bali.

Bupati Klungkung I Made Satria menyampaikan bahwa pelaksanaan upacara di Pura Agung Kentel Gumi menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya daerah. Ia menilai pelestarian nilai-nilai tradisi harus terus dilakukan secara konsisten, terutama di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.

“Kami berharap generasi muda tetap menjaga dan melestarikan tradisi seperti Tumpek Wayang. Ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol penghormatan terhadap seni dan budaya Bali yang telah diwariskan oleh para leluhur,” ungkapnya.

Melalui perayaan Tumpek Wayang, pemerintah dan masyarakat Bali kembali diingatkan akan pentingnya menjaga keseimbangan antara spiritualitas, seni, dan budaya. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya Bali terletak pada harmonisasi nilai agama, adat, dan kehidupan sosial masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru