Gubernur Koster Tegaskan Pembangunan Bali Harus Ramah Lingkungan: Hidup Harus Menguripi

Balijani.id, 10 Sep 2026, 13:59 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan arahan dalam acara Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Nusa Dua
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen pembangunan Bali yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam ajang ENSIA 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026).

BADUNG, Balijani.id | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa seluruh aspek pembangunan di Bali wajib berlandaskan prinsip ramah lingkungan dan harmoni. Pembangunan tidak boleh saling mengorbankan atau tumbuh sendiri dengan mematikan sektor lain, melainkan harus saling menghidupi dan menguripi (survive bersama).

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Koster dalam ajang Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Hotel Westin, Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026). Acara tersebut dihadiri Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Lingkungan Hidup Mohamad Jumhur Hidayat, dan Wamenko Bidang Pangan Dr. Hanif Faisol Nurofiq.

“Hidup harus harmonis dengan alam. Itulah ajaran leluhur kami di Bali yang kami jadikan konsep teknokratis pembangunan agar Bali tetap terjaga untuk generasi penerus,” ujar Koster.

Koster menjelaskan, visi kearifan lokal Nangun Sat Kerthi Loka Bali diproyeksikan untuk mewujudkan alam yang bersih, sehat, dan berkualitas. Konsep ini diperkuat melalui peta jalan jangka panjang Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125), salah satunya melalui percepatan transisi energi bersih dari hulu ke hilir. Bali bahkan mendapat kuota 1.000 MW dalam program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW nasional.

Kontribusi Ekonomi dan Devisa untuk Indonesia

Meski menghadapi tantangan infrastruktur seperti kemacetan dan pengelolaan sampah, daya tarik Bali terbukti tetap kokoh. Pada tahun 2025, Bali mencatat kunjungan 7,05 juta wisatawan mancanegara—menyumbang sekitar 45,8 persen dari total wisman secara nasional.

Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran wisatawan asing mencapai 1.522,44 dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, sektor pariwisata Bali berhasil menyumbang devisa sebesar Rp176 triliun, atau setara 55 persen dari total devisa pariwisata nasional.

“Bali ini luar biasa: pulaunya kecil, penduduknya sedikit, tetapi memberi manfaat besar bagi banyak orang di Indonesia,” ungkap Koster.

Dampak positif dari pengelolaan pariwisata dan lingkungan ini tecermin pada indikator makroekonomi Bali tahun 2025:

Mengakhiri arahannya, Koster mengajak seluruh pihak menjaga ekosistem dan budaya Bali agar tetap memiliki daya saing tinggi dan bernilai ekonomi tinggi di kancah global.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru